Selasa (28/01) sore hari pukul 15.00 WIB, Endah N Rhesa tampil di acara “Pisah Sambut Direktur ICEL (Indonesian Centre of Environmental Law)” Di Gedung Arsip Nasional, Jakarta Pusat.Setelah 9 tahun menjabat, Mas Henri Subagiyo mempersilahkan Mas Dodo (Raynaldo G. Sembiring) untuk melanjutkan program-program ICEL di tahun-tahun mendatang. Saya hadir saat Mas Henri memberikan kata sambutan dengan terharu setelah sebelumnya menyaksikan video persembahan dari para anak buahnya. Saya duduk di bangku belakang dan ikut pula meneteskan air mata. Menyenangkan sekali ketika bekerja di kantor yang hangat, seluruh tim memiliki visi misi yang sama, bersemangat memperjuangkan sesuatu, pantang menyerah, dan memiliki frekuensi pemikiran yang sama. Itulah mengapa kakak saya, Dyah Paramita, sayang sekali dengan teman-teman di ICEL.

Awal bulan September 9 tahun lalu.di Gedung Rumentang Siang, Bandung acara Radio OZ FM Bandung. Pertama kali main di luar kota dengan membawakan 90% lagu karya sendiri.  Bertahun-tahun menjadi musisi yang ditempa dari cafe to cafe, membawakan cover song, kemudian album Nowhere to Go yang dirilis tahun 2009 oleh label indie demajors membawa kami ke petualangan baru yang seru. Proses membuat dan merilis album pun tak mudah. Perlu waktu bertahun-tahun.. hey.. demikian pula dengan penampilan di panggung yang tadinya memainkan cover song, lambat laun menjadi memainkan lagu sendiri. Itu pun prosesnya tak cukup setahun… perlu pergulatan cukup lama, membangkitkan percaya diri.. juga perhitungan saldo yang mumpuni. :))  Tapi, yaa . Endah N Rhesa masih ada hingga kini. Bisa berkarya dan[…]

“Hi, besok di Ngayogjazz main jam, 16.45 ya. Usahakan nonton prosesi pembukaan. Biasanya humor banget.”. Demikian pesan singkat yang saya terima dari Pak Singo, seorang penulis dan kolektor musik asal Yogyakarta. Bujukan yang membuat saya segera koordinasi dengan tim untuk bisa sampai ke lokasi acara lebih cepat karena sebelum Ngayogjazz saya harus tampil terlebih dahulu di Plaza Ambarukmo untuk sebuah acara “Temu Sahabat Tunas Cilik” oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner dari Save The Children. “Jarak 14 kilometer, Mbak. Kalau usai tampil jam 15.00 WIB kita langsung ke sana diusahakan sampai tepat waktu.”, ujar Tysa, Road Manager Endah N Rhesa. Baiklah, saya rasa semua sudah diatur sebaik mungkin. Dan benar saja..

Hari itu, Minggu (22/10), Earhouse mewujudkan impian saya… mengumpulkan teman-teman musisi, seniman seni rupa, teman-teman kreatif, idealis, dan yang humoris di pelataran parkir mungil Pasar Kita, Pasar Modern Pamulang Kota. Saya sungguh terharu dengan kehadiran teman-teman yang saya idolakan dan jadikan panutan: Marjinal, Benny & Berry Likumahuwa, AriReda, serta Robi Navicula. Mereka, yang saya dan Rhesa pilih sendiri namanya, tampil karena memiliki karya musik juga sebuah pergerakan dan idealisme yang diterapkan dalam kesehariannya. Marjinal dengan musik, lirik, dan kontribusinya pada lingkungan tempat tinggal mereka yang menjadi ‘rumah’ bagi siapa saja untuk bisa mandiri dan berguna bagi sesama. Berani lantang dan berada dalam garis depan menyuarakan hati orang-orang yang ditindas akibat ketidakdilan. Mike, vokalis Marjinal sempat memberikan kesannya kepada Earhouse saat[…]