Tanggal 16-18 Oktober 2026 lalu menjadi momen pertama kalinya Endah N Rhesa menginjakkan kaki di Banggai, Sulawesi Selatan. Kami diundang untuk tampil di acara Festival Sastra Banggai (FSB) yang berlangsung selama sepekan. Sejujurnya, sebelum berangkat kami merasa was-was karena sudah dua hari (sejak tanggal 14 Oktober) bandara belum kunjung dibuka akibat asap kebakaran hutan dan lahan yang kemudian mengganggu jalur penerbangan. Tidak ada penerbangan ke Luwuk, Banggai. Namun, karena komitmen dan melihat sepertinya kondisi membaik, maka kami tetap putuskan untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Syukurlah kemudian pesawat kami bisa berangkat tanpa kendala, transit di Makassar, dan sampai ke Luwuk, Banggai tepat pada waktunya. Penerbangan Jakarta – Makassar ditempuh selama 2 jam, dan Makassar – Luwuk ditempuh selama 1 jam. Jika dihitung dengan waktu transit serta perjalanan kami dari Pamulang, membutuhkan waktu setengah hari untuk sampai ke Luwuk.

Kami berangkat hanya berempat menyesuaikan kondisi dan situasi festival. Saya, Rhesa, Rendi (manajer, sound engineer FOH), dan Wahyu (kru, dan sound engineer monitor). Ketika sampai bandara Luwuk, kami disambut panitia FSB yaitu Cacink dan Taufik. Kedua orang ini menemani kami dari menunggu bagasi pesawat hingga menuju hotel. Kami menginap di hotel yang terletak sekitar 20 menit dari venue acara. Ya, biasanya Endah N Rhesa selalu meminta hotel yang aksesnya dekat dengan venue supaya tidak terlalu lelah atau terjebak kemacetan saat mau berangkat manggung. Ah, tapi di Luwuk ya tidak ada kemacetan seperti Jakarta atau Ciputat, jadi tentu saja 20 menit adalah waktu tempuh yang kecil kemungkinan memiliki perubahan signifikan.

Usai menaruh barang-barang di hotel, kami menuju restoran di pinggir laut. Kami makan makanan laut yang tingkat kesegarannya saya belum pernah rasakan selama di Pamulang, atau di Jakarta. Enak, segar, ditemani angin dan pemandangan laut yang indah. Bayangkan ketika kamu berada di rumah panggung atas laut, kamu bisa dengan mudah melihat dasar pantai dan karang-karang lautnya mengingat air yang begitu jernih. Sebuah keindahan alam yang hakiki. Aku sungguh terpukau dengan pemandangannya. Usai makan, kami istirahat di hotel dan menyempatkan diri untuk menonton pertunjukan di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong. Kami menonton Daeng Rate, seorang seniman sinrilik yang menampilkan seni tutur tradisi Makassar. Juga menonton idolaku Ugoran Prasad bermusikalisasi puisi dan menyanyikan lagu-lagunya. Kemudian saat tengah malam, kami pulang ke hotel dan istirahat karena keesokan hari ingin jalan-jalan ke air terjun Piala sebelum melakukan soundcheck di venue.

HARI KEDUA YANG MENYENANGKAN

Keesokan harinya, Sabtu (17/10) sekitar jam 11 pagi seusai sarapan di hotel, kami menuju air terjun Piala. Jaraknya tidak jauh dari hotel yaitu 20 menit saja. Lokasinya sedikit menanjak namun kondisi jalan cukup bagus dan seperti memang dibangun untuk memudahkan orang-orang dalam mencapai tempat itu. Setelah tiba di tempat, kami hanya perlu jalan sedikit untuk mencapai lokasi air terjun. Ah.. sangat mudah, tidak seperti hiking-hiking Curug yang buatku cukup menantang. Maklumlah, aku bukan anak gunung jadi penuh pertimbangan ketika diajak jajal ke alam liar. Hahaha! Dan ketika aku sampai di air terjun Piala, aku cukup takjub karena air terjun ini berteras-teras, terlihat indah dan mengagumkan. Airnya biru, dingin, tetapi tidak membekukan. Sebenarnya aku ingin jalan ke teras paling atas tetapi cukup ramai dan aku lebih memilih tempat yang sepi sehingga aku bisa bebas berenang-renang. Ya, aku menceburkan diri ke air yang biru itu. Seketika aku merasakan kedamaian yang nyata. Tidak ada lagi yang aku nikmati selain bunyi air terjun, riak air, hembusan air, dan sesekali bunyi tertawa dari orang-orang yang ada di sana. Buat orang-orang Luwuk, air terjun Piala mungkin bukan yang terbaik pemandangannya. Tetapi buat warga Pamulang yang setiap hari hanya melihat jalanan sih, air terjun Piala adalah kemewahan yang tak ternilai harganya.

Setelah puas bermain air, kami kembali ke hotel dan bersiap untuk soundcheck. Namun tentu saja harus makan siang dulu di Tiga Basudara. Makanan laut lagi dengan onyom (papeda), sayur lilin, dan ikan bakar. Aaaak! Lezat! Setelah kenyang, kami langsung menuju venue untuk soundcheck. Panggung FSB begitu bersahaja, tata cahaya apik, serta tata suara yang mumpuni. Selama soundcheck, saya memperhatikan RTH Teluk Lalong dengan seksama. Betapa damai dan bersihnya taman di Teluk Lalong. Tidak pula aku mendapati kebisingan suara, bunyi-bunyian keras yang saling berlomba mencari perhatian, semua tenant sudah berada pada lokasi masing-masing dengan jarak yang nyaman, masih ada ruang untuk duduk-duduk di rumput, bercengkrama, tanpa kemudian disesaki oleh jajaan-jajaan. Semuanya terasa begitu rapi, teratur, bersih, dan inklusif. Sebuah kebahagiaan yang sederhana, namun berarti.

Usai soundcheck, menjelang Maghrib, kami kembali ke hotel untuk mandi dan rehat sejenak karena pukul 22.15 WITA kami harus tampil di panggung FSB. Tak disangka, tak dinyana, begitu sampai hotel ternyata aku mesntruasi. Pantas saja sepanjang soundcheck aku merasa mual dan sedikit cranky. Badan tidak nyaman, ingin rebahan tetapi pinggul juga merasa pegal jika terlalu sering senderan. Problematika wanita produktif seperti ini membuatku jadi harus lebih pandai mengatur mood dan fisik.

Malam hari, kami kembali ke venue. Kondisi badanku tidak terlalu nyaman. Perut sedikit melilit. Bahkan beberapa menit sebelum ke panggung, aku harus bolak-balik ke kamar mandi. Tidak ada yang dilakukan, hanya nongkrong aja. Seperti Kunto Aji dan kebiasaannya, lah! Hahaha! Hingga kemudian mau tidak mau, siap tidak siap, aku harus naik ke panggung. Di panggung, hingga lagu kedua, aku merasa sedikit melayang. Tapi juga meningkat sensitivitasnya. Ketika lagu Plastic Tree kunyanyikan, aku harus menahan haru. Juga di waktu yang bersamaan, aku harus menahan perut yang melilit karena kontraksi otot rahim. Jika seperti ini, aku agak kesulitan mengambil napas karena harus bernyanyi, bermain gitar sambil berdiri. Aku merasa bahwa napasku lebih pendek dari biasanya. Untunglah Rendi dan Wahyu bisa mengantisipasi dengan menambah gain di vokal sehingga aku tidak terlalu kepayahan menambah power. Meskipun sedikit tertatih-tatih, tetapi aku bisa melalui waktu-waktu krisis setelah di lagu ketiga. Dan kemudian pertunjukan berjalan dengan semestinya.

Usai pertunjukan, aku sangat lega dan bahagia. Kami bertemu banyak teman-teman ang memang sudah lama menunggu untuk bisa menonton penampilan Endah N Rhesa. Ya, sepanjang karir kami, inilah pertama kalinya Endah N Rhesa tampil di Sulawesi Tengah. Dan tentu saja kami sangat senang dan menghargai teman-teman yang berusaha untuk bisa datang menyaksikan kami. Kami menghabiskan waktu berbincang singkat dan berfoto bersama. Yah, tentu saja lelah, tetapi saya rasa momen ini terlalu sayang jika harus dilewatkan. Saya ingin lebih dekat dengan orang-orang di sini. Saya ingin bisa menjadi bagian dari cerita malam minggu mereka saat pulang dari FSB. Saya ingin malam minggu di Luwuk menjadi satu kejadian utuh yang bisa saya ingat selamanya. Sekitar hampir satu jam kami meladeni seluruh permintaan foto dan tanda tangan di tenda tunggu, akhirnya kami pun pulang ke hotel.

Apakah kemudian sampai hotel kami langsung tidur? Tentu tidak! Hahahaha! Di lobi hotel, kami melihat Mba Gina (IKLIM) dan Mas Ugo sedang bercengkrama. Kehangatan obrolan keduanya tidak mungkin saya abaikan. Inilah saat sempurna untuk bisa relaksasi, ngobrol ngalor ngidul tetapi berisi, dan menghabiskan malam terakhir di Banggai. Obrolan bergizi mengalir hingga jam 4 pagi. Saatnya tidur.

KESIANGAN!

Sial! Saya dan Rhesa kesiangan. Tidak sempat menikmati pagi di Luwuk, tiba-tiba sudah hampir pukul 12 siang. Saya segera merapikan baju dan perlengkapan, mandi, dan menuju lobi hotel. Saya lupa! Ada janji makan siang bersama Mba Gina dan Mas Ugo. Ah! Sekejap menyusul mereka! Kami mau makan Milu Siram! Karena sekalian pulang, kami membawa semua koper dan peralatan agar bisa langsung menuju bandara. Dan kemudian kami harus rela meninggalkan Banggai untuk pulang ke Pamulang.

Hingga saya menuliskan cerita ini, saya masih ingat betul suasana FSB Banggai, bau laut, deru air terjun piala, hingga rasa onyom yang dengan gesit melewati tenggorokan saya. Keindahan, keramahan, serta kenikmatan yang saya temukan di Luwuk sangat berbeda dengan apa yang pernah saya dapatkan di tempat lain. Ada daya tarik sendiri tentang tempat ini yang memikat hati. Suatu hari, saya harus kembali lagi ke Banggai. dan ternyata perasaan ini tidak hanya saya rasakan sendiri. Rhesa, Rendi, dan Wahyu juga merasakan hal yang sama. Kami memiliki keinginan untuk bisa kembali lagi ke Banggai. Terima kasih, Festival Sastra Banggai, juga IKLIM yang memberi kesempatan kami untuk bisa menginjakkan kaki ke salah satu surga dunia ini. Salam rindu… yang teramat sangat dari Pamulang Barat.

Love,
Endah Widiastuti

Ps : Terima kasih Cacink, Taufik, Rendi, Dimas, yang sudah mengantar kami kemana-mana. Juga Mba Ama yang sudah menjadi penyelenggara acara ini. Juga seluruh panitia dan relawan FSB, kalian josss!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*