Setelah sekian lama, enam tahun lamanya, aku kembali menulis blog lagi di sini. Kenapa? Karena aku juga baru memperbaharui website endahnhresa.com. Lalu aku melihat halaman blog-ku. Astaga! Judulnya merana sekali yaitu “This is Disaster” yang menyoroti semester awal kondisi Covid-19 tahun 2020 lalu. Ah! Sungguh aku ingin menetralisir lama blog karena kurasa sudah saatnya pembaca perlu tahu bagaimana kondisiku saat ini. Tenang… aku masih hidup! Haahahaha! Jika kemudian ada jeda 6 tahun dari tulisan terakhir, ini karena rasa malas yang melanda ketika hendak menulis, atau juga sudah terlalu banyak kanal media sosial yang harus aku rawat. Hanya saja, semerawat-merawatnya aku terhadap media sosial lainnya, ada kebutuhan untuk menulis panjang yang tidak bisa aku bendung. Ya, di mana lagi kalau bukan di blog ini.

Aku membaca kembali tulisan terakhirku tentang perasaan dan terbayang suasana Covid-19 yang lalu. Apakah kemudian sekarang menjadi lebih baik? Ah! Ternyata tidak. Ada momen di mana aku justru merindukan momen-momen saat pandemi lalu. Jalanan yang sepi, burung berkicau, langit yang biru, sepertinya alam sedang me-reset ulang kondisi yang hiruk pikuk polusi tak terbendung. Meskipun banyak pula hal yang tidak menyenangkan seperti rentetan berita duka, orang-orang yang tak bisa bekerja, nakes yang berguguran karena kelelahan, dan sebagainya. Setelah dipikir-pikir, mungkin aku tidak ingin mengulang kembali momen itu hanya kemudian menyeleksi apa kejadian atau dampak yang kiranya aku harapkan untuk terus ada sampai sekarang.

Yang aku harapkan ternyata bukan kondisi dan situasi pandeminya, namun bagaimana kemudian orang bisa menahan diri. Era pandemi lalu, orang-orang (terutama yang di kota besar) banyak menahan diri untuk tidak keluar rumah. Berarti mencoba untuk hidup seefisien mungkin. Menahan diri untuk tidak konsumsi sesuatu berlebihan karena pendapatan juga terbatas, begitu pula mobilitas. Orang-orang banyak menahan diri untuk tidak bepergian dengan kendaraan karena banyak pertimbangan, selain bahan bakar, juga kekhawatiran berinteraksi berlebihan dengan orang lain atau menyentuh benda-benda yang dianggap tidak higenis sehingga berpotensi menularkan virus. Orang-orang menahan diri dan bertahan. Pada dasarnya, semua orang di seluruh penjuru dunia sedang merasakan hal yang sama sehingga banyak yang memberi semangat dan berempati.

Jika melihat kondisi sekarang, aku merasa ini jauh lebih DISASTER daripada era pandemi. Kebakaran hutan dan lahan di mana-mana, kondisi ekonomi yang melemah sehingga banyak orang kehilangan pekerjaan. Tentu rasanya berbeda saat pandemi di mana kita semua kehilangan pekerjaan. Namun saat ini kesenjangan itu terasa nyata. Masyarakat kecil dan menengah harus ngap-ngapan bertahan hidup, sedangkan pejabat dan beberapa orang di lingkar kekuasaan seperti tidak tersentuh dengan penderitaan sebagian besar masyarakat negeri ini. Kebakaran hutan dan lahan tidak selesai-selesai, tidak ada komunikasi yang jelas di jajaran pejabat atau pemerintah sehingga menimbulkan rasa frustasi bagi rakyat. Ini mau sampai kapan? Dan bagaimana cara agar api lekas padam? Siapa yang bertanggung jawab? Mana bukti dan tayangan kongkrit bahwa pemerintah sudah melakukan yang terbaik untuk bencana ini? Semua seperti tidak terjawab. Bahkan saya mencari berbagai ulasan, reportase, tayangan, namun tidak satu pun ada pernyataan memuaskan dari pihak-pihak yang berwenang. Rasanya lelah sekali… lebih lelah daripada menunggu kapan PPKM berakhir di era pandemi lalu.

Enam tahun setelah tulisan saya yang terakhir, ternyata bukan kembali dengan berita bahagia. Apa kek.. misalnya akhirnya aku punya momongan, Earhouse berhasil ekspansi membuka cabang di beberapa kota, atau Endah N Rhesa tur Asia. Hahaha! Ternyata problema hidupku begini-gini saja. Hidup di Pamulang, Tangerang Selatan, dengan polemik sampahnya, menjadi warga negara Indonesia yang tetap berkutat dengan pemerintahan yang korup, justru malah tahun ini Earhouse menghentikan divisi F & B karena sudah tidak sanggup menopang biaya operasional. Enam tahun berlalu sejak pandemi, aku masih hidup dan bisa bernapas di bumi yang sesak ini saja sudah sebuah keajaiban. Allah masih memberiku kesempatan untuk bersyukur sekaligus misuh-misuh di laman blog yang mungkin tidak dibaca orang ini. Ya tidak apa-apa. Sejak awal, blog ini ada memang hanya untuk pelampiasanku saja. Meskipun ada citra Endah N Rhesa, namun buat apa berpura-pura kalau perasaanku baik-baik saja? Tidak apa untuk menunjukkan bahwa aku sedang gelisah karena ini hal yang wajar ketika masih ada empati di dalam diri ini. Yang menakutkan adalah ketika sudah tidak ada lagi kepedulian terhadap ketidakadilan yang terjadi di mana-mana, di sekitar kita, atau pun di dunia. Buatku, kutukan menjadi seorang seniman (musisi) adalah sensitivitas yang berlebih terhadap apa yang terjadi atau dirasakan di sekitar kita. Sensitivitas itulah yang membuatku kembali menulis. Aku butuh ruang yang banyak untuk melampiaskan perasaan dan pikiranku.

Yah.. demikian, aku mulai menulis blog ini lagi. Meskipun bukan membagi cerita yang membahagiakan, setidaknya menulis di sini cukup melegakan bagiku.

Pamulang, 20 Oktober 2026
Endah Widiastuti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*