Menebar Inspirasi di Rumah Belajar Plumpang
Minggu lalu kawan lama saya yang kini bekerja di Reader’s Digest Indonesia, Bayu Maitra, menanyakan kesediaan saya untuk menjadi sukarelawan #MenebarInspirasi di Rumah Belajar Plumpang, Ancol. “Jadi gue pengen lo dan Rhesa ngajar, Ndah. Terserah materinya apa, tapi kalau bisa yang sesuai dengan profesi lo.”, bujuk rayu Bayu. Hehehe.. Awalnya, saya merasa tidak begitu percaya diri… Ah.. saya ngajar apa? Memang sih, setiap kelas hanya mengajar sekitar 30-45 menit. Tapi.. untuk seorang saya yang jarang terjun mengajar tentu saja bukan hal mudah untuk memikirkan materinya (padahal dulu kuliah jurusan Music Education di UPH.. Hahaha!). Lalu hari yang mendebarkan itu tiba…
Selasa, 17 Juli
Saya dan Rhesa, ditemani Jangfang, berangkat pukul 09.30 WIB dari Pamulang. Tiba di Plumpang sekitar pukul 12 siang. Setelah makan siang, kami menuju ke Rumah Belajar. Tidak terlalu sulit mencarinya, karena Rumah Belajar Plumpang ternyata gabung dengan markas KORAMIL setempat. Saya tersentuh ketika melihat kondisi Rumah Belajar Plumpang ya.. Benar-benar hanya satu ruangan sebesar 6mx5m, itu pun dibagi 2 kelas, tanpa AC, belajar dengan cara lesehan dengan satu papan tulis bolak-balik. Saya langsung membayangkan bagaimana latar belakang anak-anak yang akan ikut kelas dengan melihat lingkungan di sekitarnya.. hmm.. pasti sangat menantang.
Para relawan hari ini ada 4 orang. endah N rhesa (musisi), Imam Rachmadi (Account Director/ Event Organizer), Rachmawati (Guru privat), dan Syahrina (Handmande enterpreneur). Mbak Rachma dan Mbak Syahrina mendapatkan giliran pertama untuk mengajar. Karena keterbatasan ruangan, jadi ada yang belajar di dalam ruangan dan di luar ruangan. Dan saat itu matahari cukup terik hingga kami bersimbah keringat… “Eh, ini nggak sepanas kemarin lho..”, kata Mas Antono. Wow… O_o

Saya mengamati kelas-kelas yang sedang berjalan. Anak-anak yang ikut kelas di luar ruangan berusia lebih muda, cenderung nurut, pasif dan malu-malu, dibandingkan yang di dalam ruangan usianya lebih besar dan lebih aktif. Rata-rata usia semuanya kira-kira SD sampai SMP. Mbak Syahrina, dengan penuh ketelatenan, mengajarkan anak-anak untuk merajut, memperkenalkan nama perlengkapan yang pakai untuk merajut, memberitahu jenis-jenis benang.. Karena benangnya warna-warni, jadi anak-anak kecil ini suka sekali memainkannya. Hahaha. 
Materi Mbak Rachma juga tak kalah menarik. Materinya adalah memperkenalkan profesi-profesi yang ada pada masyarakat. Mba Rachma memperkenalkan profesi guru, arsitek, pedagang, pemain sepak bola, dan lain-lain. Ternyata anak-anak ini sangat tertarik mendengarkannya. Kata salah satu teman dari Yayasan Cinta Anak Bangsa berkata.. “Dulu mereka nggak ngerti profesi lain selain jadi OB, atau SPG. Buat mereka jadi OB itu udah cita-cita tinggi banget. Padahal banyak profesi di luar itu yang bisa mereka raih.”, dan saya mendengarkan dengan haru. 
Kemudian.. mulailah giliran saya dan Rhesa mengajar, berbarengan dengan Mas Imam, namun beda ruangan. Rhesa membawa gitar dan mengiringi saya memperkenalkan diri dengan bernyanyi. Ya.. bernyanyi. Hal itu membuat nervous saya sedikit hilang… Lalu saya meminta anak-anak menyebutkan nama dan umur dengan cara bernyanyi.. Ya.. mereka bisa menyanyikannya. :’). Saya memulai dengan memperkenalkan ketukan birama 2/4, 3/4, dan 4/4. Lalu mengajarkan mereka bernyanyi lagu daerah Papua, yang juga sering endah N rhesa mainkan, Yamko Rambe Yamko. Ternyata belajar lagu daerah itu menyenangkan. Mereka tekun mempelajari kosa katanya yang terdengar ‘baru’ di telinga mereka. Memang nadanya masih kemana-mana ya.. tapi itu tidak penting.. yang penting adalah ketepatan ritem, tempo dan kegembiraannya itu lhooo.. Hahaha!! Lalu setelah mereka lumayan lancar menyanyikannya, saya membagi mereka jadi 2 grup untuk melakukan canon (bernyanyi sahut-sahutan). Ah.. menyenangkan sekali.
Usai mengajar, saya masih bisa mengintip kelas Mas Imam. Yang ini tak kalah menyenangkan.. kelasnya dipenuhi dengan balon-balon dan kertas warna-warni. Oh, ternyata Mas Imam sedang mengajarkan bagaimana meng-organize sebuah acara ulang tahun. Anak-anak dengan giat membuat undangan, menghias meja, meniup balon (dan memecahkannya lagi.. hahaha!).. Sangat menyenangkan. 

Setelah kelas selesai, sekitar pukul 15.30 WIB, kami semua berkumpul di ruangan dalam. Awalnya anak-anak diminta untuk tampil gabungan menyanyikan Yamko Rambe Yamko. Tapi sepertinya lebih seru kalau para pengajar, tim Yayasan Cinta Anak Bangsa dan Reader’s Digest juga ikutan tampil sama anak-anak dooong.. Jadilah Paduan Suara Dadakan Rumah Belajar Plumpang. Hahaha!!! 
Menyenangkan sekali rasanya bisa mendapatkan pengalaman seperti ini… Semoga anak-anak Indonesia, dimana pun kalian, bisa mendapatkan pendidikan akademis dan moral yang baik, bisa meraih cita-cita yang berguna bagi masa depan bangsa, bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dari sekarang… dan bisa #MenebarInspirasi untuk masyarakat…
Salam,
Endah Widiastuti
ps : foto-foto dari dokumen endah N rhesa, Yayasan Cinta Anak Bangsa @ycabfoundation, Bayu Maitra @bayumaitra, Reader’s Digest Indonesia @rdindonesia