Mungkin ada yang pernah tahu gerakan pemuda JBDK (Jangan Bugil Depan Kamera). Saya pernah menonton kampanye ini di televisi, setelah browsing internet akhirnya mendapatkan link-nya. Masih terpatri dalam ingatan saya bahwa maraknya alat perekam yang handy dan sistem sharing yang cepat di dunia maya bisa membawa dampak negatif apabila kita menggunakannya secara tidak bijaksana..

Saya dan Rhesa menahan diri untuk tidak menanggapi maupun menyinggung-nyinggung soal video ++ yang marak diperbincangkan saat ini di twitter maupun jejaring sosial maya lainnya karena kami menyadari bahwa banyak dari 25ribuan followers twitter atau facebook kami tidak semuanya telah menginjak usia dewasa. Meskipun lambat laun mereka pun bisa jadi menyadari ketika topik tersebut sudah menjadi Trending Topic atau diangkat di media massa.

Akhirnya untuk membagi kegelisahan saya yang cukup tertahan ini, saya memberanikan diri untuk menulis blog hanya sebagai sharing dan mengutarakan pemikiran saya tentang hal ini.

jbdk-logoteksSebagai perempuan, saya merasa kasihan dan tidak tega terhadap perempuan-perempuan lain yang menjadi eksploitasi massal, baik dalam seks maupun hal yang lain, sehingga mereka menderita. Namun, saya juga tidak bisa berkata-kata apabila perempuan-perempuan tersebut melakukan hal yang seharusnya bisa mereka cegah demi nama baik mereka. Sebuah beban yang cukup berat bagi perempuan adalah menjaga diri mereka yang cukup rentan dengan berbagai eksploitasi, terutama eksploitasi seksual.

Saya bisa memaklumi apabila ada artis atau seniman yang bersedia untuk telanjang di depan kamera karena mereka memiliki alasan dan siap dengan segala konsekuensinya. Saya hanya berharap bahwa gambar-gambar tersebut tidak ditayangkan atau dipertunjukkan untuk umum. Bisa juga hanya diedarkan atau ditunjukkan di tempat-tempat tertentu serta diberikan informasi kepada orang lain bahwa film/ content karya tersebut hanya dikonsumsi oleh orang dewasa. Yang membuat saya cukup khawatir adalah orang-orang (terutama anak-anak muda) yang mungkin merekam “ketelanjangan” mereka sebagai hal iseng, namun ternyata dampaknya cukup besar.. apalagi setelah data / file pribadi tersebut “bocor” ke khalayak umum.

Katakanlah “ketelanjangan” tersebut hanya untuk koleksi pribadi. Namun ketika data atau “karya” tersebut beredar di masyarakat maka semuanya menjadi bias. Orang tidak lagi peduli bahwa kesalahan bisa jadi bukan pada orang yang ada di data tersebut namun pada orang yang mengedarkan. Banyak alasan untuk menjadi penyebab kenapa koleksi pribadi tersebut beredar di kalangan umum. Karena data tersebut tersimpan dalam HandPhone atau komputer.. lalu seseorang mencuri atau meng-copy ..dan ketika data tersebut sudah sampai pada orang yang tidak bertanggung jawab, maka tak bisa dielakkan lagi.. beredarlah di mana-mana.

Yang juga membuat saya khawatir adalah… ada anak-anak kecil yang mungkin belum paham sepenuhnya dengan hal ini. Namun ketika terkait di jejaring sosial, mengikuti salah satu profil selebritis atau musisi, maka dia pun jadi mendapatkan informasi yang seharusnya belum boleh dikonsumsi. Masih untung kalau ada orang tua yang mendampingi dan dengan cerdas mengantisipasi.. kalau tidak.. ? Ya, saya khawatir.. saya memiliki keponakan-keponakan yang cukup cerdas bermain-main di jejaring sosial. Mungkin follow twitter Endah N Rhesa juga. Dan saya pun tidak ingin mereka mengkonsumsi sesuatu yang belum saatnya mereka konsumsi karena saya tidak tahu bagaimana dampaknya dikemudian hari apabila beberapa aspek pendukung tidak siap dengan kejadian ini.

Saya berdoa untuk orang-orang, khususnya perempuan-perempuan, yang pernah atau saat ini mengalami tekanan cukup berat dalam kasus serupa. Semoga kalian diberikan ketabahan dan kekuatan untuk bangkit kembali serta tidak mengulangi kesalahan yang sama. Untuk saya, dan pembaca blog ini, marilah kita mulai berhati-hati dan menggunakan teknologi ini secara bijak. Mungkin bisa diawali dengan mengingat-ingat untuk JANGAN TELANJANG DI DEPAN KAMERA. Jaga-jaga saja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Sincerely,

Endah

5 thoughts on “Jangan Telanjang di Depan Kamera!

  1. Istiqomah says:

    Assalamu’alaikum
    Saya senang sekali membaca tulisan kalian,sebuah artikel yg bgs dan mendidik trmksh bnyk udah menulis tulisan yang sangat bagus ini.Wassalam

  2. Vicky Firmansyah says:

    Tulisannya keren mba, dan setuju sekali. Jangan jadikan TELANJANG DI DEPAN KAMERA sebagai konsumsi public.

  3. terima kasih untuk sharingnya! sangat bermanfaat sekali… 🙂

  4. indrew says:

    kalo kata efek rumah kaca : kenakalan remaja di era informatika…

    ternyata yang bukan remaja juga banyak yah 😀

  5. yudhi says:

    wah selain jago main musik, ternyata mbak Endah juga jago nulis. Sebenernya topik bahasan yang udah lama tapi kayaknya harus diulang-ulang terus deh biar masyarakat Indonesia ini selalu inget terutama para perempuan. Karena ibuku perempuan, adikku perempuan, dan kekasihku perempuan, aku gak mau kalo mereka jadi salah satu video yang tersebar itu.

    regards

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*