Prihatin dengan banjir yang terjadi di Jakarta kalau sedang dilanda hujan lebat seperti sekarang ini. Hidup menjadi tidak efektif, waktu banyak terbuang, energi habis karena menghadapi hal-hal yang seharusnya tidak perlu lagi terjadi di kota yang semaju ini. Saya masih bisa bersyukur dan bernapas lega karena saya dan Rhesa tinggal di bilangan selatan Jakarta. Rumah papa saya di Limo, Depok. Dan rumah kami di Pamulang, Ciputat. Setidaknya, banjir tidak sampai masuk ke dalam rumah… meskipun sering juga menggenangi akses jalan yang kami lewati bila hendak menuju Jakarta. Tentunya kadang menghambat produktivitas dan aktivitas jika sedang ada perlu di Jakarta.

Betapa kacaunya keadaan Jakarta bila sedang hujan, banjir, jam pulang kantor… NERAKA. Saya membayangkan wajah-wajah lelah di dalam angkutan umum (yang kondisinya rata-rata kurang nyaman)… apalagi kalau duduk di sebelah orang yang merokok di dalam angkot dengan kondisi kaca harus ditutup karena hujan. Belum lagi pengendara motor yang kehujanan, terjebak banjir, mogok, kena siram kubangan karena truk atau mobil lewat… nggak sengaja tentunya. Atau ambulans yang terjebak macet dan banjir padahal harus menjemput/mengantar pasiennya yang sedang sekarat.. Naudzubillahi min Dzalik Kadang saya berpikir.. gila.. hidup di Jakarta harus survive sendiri.. ga ada jaminan apa pun di jalanan.. cari selamat sendiri-sendiri..

Saya bukan pengamat tata kota atau lingkungan.. tapi saya tahu ada sesuatu yang tidak beres di kota Jakarta hingga terjadi chaos yang luar biasa.. dan penyebabnya adalah hujan… Hujan tidak pernah salah. Kita tidak bisa menentang dan mengatur hujan kan? Tapi kita bisa mengatur, menata dan mengontrol LINGKUNGAN.

Bagaimana tidak banjir kalau tidak ada daerah resapan air di Kota Jakarta? Seperti bentuk keheranan saya ketika melihat sebuah mall besar di Gandaria. Whoa.. tidak ada mall saja sudah macet parah dan banjir.. apalagi ada mall. Oh, pasti si pemberi ijin sudah memikirkannya lah.. akan ada sistem sanitasi yang baik, infrastruktur jalanan yang diperbaiki.. hmm.. benarkah?

Atau bangunan-bangunan liar yang ada di pinggiran kali Jakarta.. saya ingat pelajaran PLKJ (Pendidikan Lingkungan Kehidupan Jakarta) mengenai aturan wilayah yang tidak boleh dibangun bangunan permanen adalah DAS (Daerah Aliran Sungai).

Ayah dan kakak perempuan saya ahli AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), bersertifikat, idealis. Saya ingat kalau setiap ada pembangunan apa pun seperti mall, rumah sakit, kilang minyak, SPBU dll harus ada AMDAL -nya. Untuk mengetahui kira-kira apa dampak lingkungan yang akan terjadi apabila ada pembangunan di wilayah yang bersangkutan. Tidak hanya dampak terhadap alamnya, tapi juga terhadap manusianya… kebiasaan hidupnya, mata pencahariannya, dll. Yes.. tentu lingkungan bukan hanya resapan air saja.. tapi gaya hidup manusianya pun adalah bagian dari lingkungan tersebut. Oh.. seringkali melihat orang membuang sampah dari jendela mobil di tengah jalan.. atau dari angkot. Terlihat juga dari minimnya tong sampah umum yang ada di pinggiran jalan.. atau tadinya ada tapi sudah hancur di coret-moret atau porak-poranda oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Atau bagaimana dengan kehidupan di kalangan ekonomi bawah di bantaran sungai, mempersempit volume tempat penampungan air dan tak jarang membuang sampah di sana. Tapi di mana mereka akan hidup jika bukan di sana?

Betapa rumitnya lingkungan Jakarta. Ketika hendak membenahi kotanya, secara paralel pun harus membenahi manusianya. Tata kota, sanitasi, infrastruktur jalan, daerah resapan air, pembuangan limbah, pengolahan sampah, penghijauan… membenahi manusianya dengan cara DISIPLIN.. oh.. kayaknya lebih sulit daripada itu semua. Mulai dari diri sendiri? Oh, tentu sudah… buang sampah tidak sembarangan, menyisakan tempat untuk resapan air di rumah yang sedang kami bangun, menggunakan kembali plastik bekas, mengurangi pemakaian botol plastik… semoga kami tidak menjadi manusia apatis dan menyerah dengan keadaan.

Setelah mendapatkan informasi dari twitter dan browsing internet, ternyata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, punya website.. bisa kirim surat juga. Atau ada juga situs PEMDA DKI JAKARTA. Lumayan sih, daripada nggak ada. Mari kita BANJIRI guest book atau email yang ada di sana dengan suara kita. Semoga selain isinya PROTES, juga dibarengi SOLUSI. Yah.. itu kalau bisa… kalau enggak bisa… ya.. biar mereka yang pikirkan solusinya. Kita kan hanya rakyat jelata..

Selamat dan semoga sukses menempuh jalanan Jakarta di musim penghujan.. sedia pelampung sebelum terbenam.

Endah

5 thoughts on “Banjir.. oh Banjirrr…

  1. Nuri says:

    setiap kali balik ke Jakarta (saya kuliah di Bandung) untuk mengunjungi orang tua,awal nya sii betah banget. bisa males balik ke Bandung kalo udah di Jakarta. tapi sekarang ? malah males balik ke Jakarta karena MACET dan BANJIR. di dalam kota saja bisa terjadi kecelakaan beruntun. Jakarta memang sudah tidak aman dan hampir lumpuh. apalagi beberapa hari yang lalu Ayah menyuruh saya untuk meneruskan pendidikan S2 di Jakarta. saya jadi mikir seribu kali lagi untuk mengambil keputusan itu.

    banyak yang bilang Monorail adalah solusi yang tepat. eiiits,yakin ? dengan keadaan Jakarta seperti ini saya sangat tidak yakin. kenapa ? tanah yang diduduki bangunan tinggi saja bisa amblas,bisa anda bayangkan jika tanah lembek itu dibebani sebuah kereta yang menampung ratusan penumpang Jakarta ? Jika keluar kalimat ‘Serahkan Pada Ahlinya’ lagi,itu omong kosong belaka. nyawa manusia bukan untuk dijadikan percobaan. Udah kayak film Final Destination aja,ngebayanginnya aja udah ngeri,gimana kalo kejadian beneran ? amit2 jabang bayiiii –“

  2. kucingmales says:

    menarik, situasi jakarta saat ini memang kurang kondusif ketika musim penghujan tiba.
    sy sendiri ngga tinggal di jakarta. cukuplah TL di twitter jd saksi betapa banyaknya temen2 sy yg emosi dan berucap sumpah serapah atas kejadian banjir tersebut.
    semoga cepat ada jalan keluarnya.

  3. @Nuri betul sekali.. saya percaya sebenarnya setiap proyek apa pun itu memerlukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Perlu ada riset, data-data, kajian dan tahap perencanaan yang pro terhadap lingkungan yang baik. Kalau proyek monorail, yang dipercaya sebagai alternatif transportasi, sudah lulus AMDAL tentunya sih akan bagus.. tapi kembali lagi pada efektifitas dan infrastruktur yang bisa mendukung kinerja transportasi alternatif tersebut… Hmmf… berdoa saja semoga tidak terjadi kemacetan total dan Jakarta tidak tenggelam..

  4. @kucingmales derita ibukota… seharusnya ini tidak terjadi.. ibukota negara lho ini… -_-“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*