Selasa, 22 Maret 2011

Pagi-pagi saya terbangun pukul 5.30. Oh oh. Ini seperti mimpi, saya ada di London. Lalu saya bergegas mandi dan menelpon Soleh untuk jalan-jalan. Kapan lagi bisa melakukan ini? Jadwal dari Coca-Cola sudah sangat padat, sebisa mungkin kami mencuri waktu untuk pergi ke tempat yang kami sukai.

HYDE PARK

Setelah menunggu pukul 7 untuk sarapan, kami segera menuju ke Hyde Park menggunakan Tube (sebutan untuk transportasi kereta London). Kenapa disebut Tube? Karena kereta-kereta ini berjalan melalui lorong-lorong yang mirip tabung (tube). Hehe! Untuk menggunakan Tube, kami harus menggunakan kartu Oyster. Ini adalah kartu transportasi yang bisa digunakan untuk naik kereta atau naik bis. Hanya tinggal menempelkannya pada sensor yang tersedia sebelum masuk gerbang kereta atau di pintu masuk bis. Sistemnya mirip dengan kartu MRT/bis di Singapura, bisa diisi ulang sesuai dengan harga tiket tujuan perjalanan.

Nampaknya karena masih pagi, jadi Tube ini masih sepi. Kami tidak perlu berdesak-desakan dan berebutan untuk masuk. Udara juga tidak terlalu dingin. Cukup nyaman untuk jalan-jalan.

Hanya sekitar 20 menit kami sampai di Hyde Park dan ternyata besar dan luaaas sekalliiii… seru banget melihat orang-orang memakai sepeda di Hyde Park, jalan kaki, olah raga, atau hanya sekedar duduk-duduk di taman. Di Hyde Park ada track khusus untuk sepeda, pejalan kaki, dan track untuk lari. Tertib dan rapih.

Hmm.. setelah puas berkeliling (itu pun tidak sampai ujung karena luas banget) kami pulang ke hotel, kali ini menggunakan bis tingkat khas London. Ihiy! Bis ini keren banget karena ada fasilitas tempat untuk pemakai kursi roda dan kereta bayi. Semua penumpang naik dengan tertib di pintu depan dan keluar lewat pintu belakang. Ternyata jarak dari hotel tempat saya menginap ke Hyde Park cukup dekat. Bahkan lebih praktis naik bis daripada Tube. Perjalanan juga terasa lebih singkat. Yeay! Saya rasa cukup dulu berpetualang untuk pagi ini.

O2 : BRITISH MUSIC MUSEUM

Jadwal hari ini cukup padat. Kami hanya sempat ke Hyde Park mengambil beberapa foto lalu kembali ke hotel untuk menuju ke O2, British Music Museum pukul 10 pagi. Ternyata tempatnya agak jauh dari hotel, kira-kira memakan waktu 1-1.5 jam. Bangunannya di desain sangat modern, seperti kubah besar mirip gedung MPR/DPR di Senayan, Jakarta tapi lebih keren. Selain British Music Museum, di dalam gedung itu juga terdapat restoran-restoran atau gerai-gerai tempat berjualan.

Kami masuk ke British Music Museum. Sayang sekali kami tidak diperkenankan mengambil foto. Padahal di dalamnya keren banget. Museum ini sebenarnya punya konsep sederhana yaitu menampilkan dokumentasi band-band Inggris sejak tahun 1940 hingga sekarang. Nama-nama seperti The Beatles, Rolling Stones, The Clash, sampai yang terkini ada di sana. Dokumentasi tersebut disajikan dengan cara menarik menggunakan teknologi audio visual yang seru dan tidak membosankan.

Setiap ruangan menampilkan dokumentasi kejadian bersejarah masing-masing untuk periode 10 tahun. Ada layar besar dengan susunan menu tahun dan timeline dengan gambar band-band yang bisa dipilih dengan mouse. Seperti layar komputer raksasa. Setiap kali kita pilih menunya maka akan keluar dokumentasi foto/ video dan suara yang menjelaskan tentang kejadian saat itu. Selain itu, di ruangan yang sama, juga ada etalase besar isinya benda-benda bersejarah seperti kostum Jimi Hendrix, piringan hitam The Beatles, foto-foto bersejarah yang bisa kita pilih dengan mouse berbentuk tuts piano. Ketika kita pilih maka ada lampu yang menyorot benda pilihan kita, lalu suara dan video akan tampil di layar di samping etalase tersebut.

Saya tidak sempat mampir ke tempat-tempat lain karena ada satu tempat yang menarik perhatian saya… Gibson Interactive Studio. Haha! Selain ada beberapa gitar Gibson yang dipajang, ada juga fasilitas belajar gitar, bass, drum bersama artis-artis Gibson. Ada sekitar 5 layar mini dengan masing-masing gitar Gibson terpasang di sana, bisa duduk dan memilih menu di layar ingin belajar gitar dengan siapa. Saya sempat mencoba menu belajar dengan KT Tunstall, seorang endorser Gibson. Menarik! Diajarin chord dan cara strumming yang baik. Hahaha! Selain gitar, ada juga bass dan drum dengan konsep yang sama.

Menariknya lagi adalah ada booth vokal. Kita bisa nyanyi, seperti karaoke, tapi tidak minus one. Bisa langsung rekam diiringi musik original artis oleh yang kita suka. Seperti Queen, Oasis, dan lain-lain. Cukup lah untuk bersenang-senang. Hahaha! Sayang sekali saya tidak bisa mengambil foto. Untunglah ada fotografer resmi Coca-Cola yang beberapa kali saya todong untuk mengambil foto saya di tempat ini. Haha! Semoga nanti dikirim file-nya.

Setelah 1 jam di British Music Museum, kami lanjut makan siang di sebuah restoran Brazil. Lumayan ada nasi, meski tetap saja saya masih lebih suka makanan Indonesia… tiba-tiba kangen bebek goreng Hj. Slamet. Hahaha!

THAMES RIVER, BIG BEN, BATTERSEA

Lalu kami kembali ke hotel. Syukurlah saya duduk di dekat jendela saat berada di dalam bis. Saya bisa mengambil gambar Sungai Thames serta berbagai macam obyek yang menarik. Perjalanan ini terasa sangat berharga, karena saya tidak akan punya waktu untuk menelusuri rute ini esok hari. Rute bis ternyata menyusuri sepanjang Sungai Thames. Ini sangat  menyenangkan karena saya bisa melihat Big Ben dan lewat tepat di bawahnya. Ufff.. tinggi dan besar sekali!

Saya sangat menikmati perjalanan ini. Selain Big Ben, saya juga mengabadikan beberapa bangunan dengan desain arsitektur yang menarik di perjalanan sepanjang Sungai Thames ini. Salah satunya adalah Battersea Power Station yang dirancang oleh Gilbert Scott. Soleh bilang pada saya bahwa bangunan ini seperti yang ada di cover album Pink Floyd yang berjudul Animals. Album tersebut dirilis tahun 1977. Dan seketika itu juga saya merinding… bangunan itu jadi tampak seram…

Sebenarnya ingin sekali keluar bis dan menyeberangi sungai menggunakan kapal-kapal kecil yang memang digunakan untuk wisata. Apalagi setelah melihat Battersea. Saya ingin sekali ke sana dan melihat bangunan besar itu secara dekat. Tapi tidak mungkin… karena pukul 3.30 sore kami harus sudah di hotel. Semoga suatu hari saya bisa kembali lagi ke sini dan ke tempat-tempat yang belum sempat saya kunjungi.

Ini dia foto Battersea Power Station dan Cover Album Pink Floyd : Animals.

LONDON STUDIO

Pukul 4.30 sore kami berkumpul di lobby hotel dan siap-siap menuju London Studio,tempat di mana Maroon 5 hendak menciptakan dan merekam lagu khusus untuk Coca-Cola. Yes, kami akan melakukan reportase langsung mengenai kejadian ini langsung dari London melalui twitter dengan hashtag #24Maroon5 untuk Indonesia, dan #withMaroon5 untuk internasional.

London Studio ini adalah studio pilihan Coca-Cola. Tempatnya cukup besar. Ada 3 lantai dengan satu lobby besar. Lantai paling bawah sebagai studio rekaman, lantai kedua untuk ruang tunggu/istirahat dengan kaca yang bisa mengamati ruang dalam studio rekaman, dan lantai 3 adalah café kecil dilengkapi meja-meja untuk media yang datang meliput.

Kami langsung naik ke lantai 3 dan Coca-Cola telah menyediakan makanan dan minuman yang tidak terbatas. Burp! Selain itu, ada layar tv yang menayangkan kejadian di dalam studio supaya kita bisa tahu proses pembuatan lagu dari Maroon 5. Tentunya apa yang tampil di layar ini sama dengan yang teman-teman lihat di website Coca-Cola saat acara ini berlangsung. Yang menarik adalah ada screen putih besar di dalam studio yang menayangkan semua tulisan dari twitter yang mencantumkan hashtag #withMaroon5, sehingga terbaca oleh semua personil Maroon 5 ketika mereka ada di dalam studio. Hmm.. konsepnya menarik karena seakan-akan melibatkan pecinta Maroon 5 pengguna twitter dari penjuru dunia. Saya segera cari tempat paling enak untuk men-charge iPhone saya dan langsung melakukan reportase.

Pukul 5 sore tepat, perhelatan Maroon 5 untuk membuat lagu dalam waktu 24 jam segera di mulai. Saya melihat Adam Levine masih bermain-main di balik drum sambil jamming dengan rekan-rekannya yang lain. Hmm.. sepertinya masih mengumpulkan mood dan mencari inspirasi. Hingga akhirnya setelah 2 jam, saya mulai mendengar pola ritem yang mulai teratur.

Kami beserta para blogger dan media lainnya, secara bergantian, memasuki ruang tunggu yang ada di lantai kedua dan mengamati proses pembuatan musiknya. Yang terlihat dari tempat saya berdiri adalah Jesse (keyboard), Mick (bass) dan James (gitar). Mereka seperti sedang berdiskusi dan sesekali melihat ke tempat kami berdiri. Duh… semoga mereka tidak terganggu dengan kehadiran kami. Mereka seperti ikan di dalam akuarium. Hahaha!

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*