flyer web dfPerkenalan dan pertemanan kami dengan Andrew Ross (Artistic Director Darwin Festival 2015) berawal saat kami berpartisipasi pada acara IPAM (Indonesia Performing Arts Market) tahun 2013. Tahun ini kami diundang untuk tampil di Darwin Festival yaitu tanggal 15 & 16 Agustus 2015 di Bamboo Band Stage dan The Lighthouse Stage.

Day 1

Kami tiba di Darwin pukul 05.00 pagi waktu Darwin. Kami dijemput oleh L.O yang bertugas hari itu dan langsung diantar menuju penginapan. Kami menginap di apartemen milik Consulate of The Republic Indonesia. Kami istirahat hingga siang hari kemudian kami sound check di Bamboo Band Stage. Lokasi venue sangat dekat dengan penginapan kami sehingga hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit untuk sampai ke lokasi acara, Festival Park. Lokasi dan suasana Festival Park sangat luas dan nyaman. Banyak tersedia booth makanan dari berbagai negara, termasuk juga ada booth makanan dari Indonesia. Sekitar 1 jam setelah sound check, kami tampil saat sunset bermain selama 20 menit.

bamboo sband stand

 

Awalnya kami cukup nervous dan sedikit ragu akankah penonton suka dan terhibur melihat penampilan kami karena mereka sambil makan dan mengobrol satu dengan yang lain. Namun ternyata sambutan penonton cukup meriah dan bertepuk tangan setiap usai lagu. Beberapa penonton yang melintas di depan panggung tak segan-segan mengacungkan jempol kepada kami. Usai penampilan, sekitar 5 orang menghapiri kami di waktu yang terpisah untuk memberikan apresiasi dan pujian secara langsung kepada kami.

Kami kembali ke penginapan dan kemudian dijemput Andrew untuk menonton Mike Nock, musisi jazz legendaris dari Sidney, di Darwin Railway Club. Andrew meminta kami untuk tetap membawa alat musik dan siap tampil spontan mempromosikan penampilan kami esok hari. Tentu saja kami menyanggupi kesempatan ini dengan senang hati.

Suasana di Darwin Railway Club sangat nyaman, tata suara yang bagus, tidak terlalu keras tapi terdengar jelas, panggung dengan proposi yang pas dengan tata lampu yang apik, musisi yang tampil pun keren. Penonton sangat apresiatif dan terlihat siap untuk menikmati pertunjukan musik.

Setelah penampilan Mick Nock dan Asian People, kami diberi kesempatan untuk tampil dua lagu oleh pemilik club. Menurut saya, justru penampilan di luar program ini yang menarik. Kami tampil spontan, tanpa expektasi, dan kami tidak menyangka ternyata penontonnya suka sekali dengan penampilan kami. Entah kenapa, saya sangat rileks dan banyak membanyol seperti biasa ketika saat tampil di Indonesia. Kami memainkan lagu ‘Blue Day’ dan ‘Baby It’s You’. Tentu saja saya dan Rhesa menampilkan signature pose Endah N Rhesa dan mengajak penonton bernyanyi bersama mengikuti nada-nada yang saya lontarkan. Mereka suka sekali, bahkan tertawa terbahak-bahak ketika saya berimprovisasi ‘menyanyikan’ materi promosi kami tampil di The Lighthouse esok hari.

railway club

Kami senang sekali melihat reaksi pengunjung yang hadir malam itu. Kami mengamati penilaian mereka terhadap kami sebelum dan setelah kami main. Tentu saja karena penampilan kami cukup spontan dan di luar program acara malam itu. Jadi, baik kami maupun penonton, tidak ada ekspektasi apa pun. Saya merasa agak aneh dan sedikit tersipu-sipu setelah turun panggung mendapati semua mata dan senyum tertuju kepada kami malam itu. Penonton dan musisi menghampiri kami untuk mengobrol dan menyampaikan pujian kepada kami. “You know, guys?! you are the star!!”, kata salah seorang penonton yang berasal dari Melbourne. Kami senang sekali. Sepertinya usaha kami cukup berhasil karena banyak yang berjanji untuk hadir ke pertunjukan kami esok hari.

Menunggu taksi saat malam minggu di Darwin ternyata cukup memakan waktu lama. Setelah satu jam menunggu akhirnya salah satu tamu club yang menonton dan mengobrol dengan kami, Mrs. Kylie, menawarkan tumpangannya. “My husband is from Jogjakarta. I will let him drive you home. He is in the car right now.”, ujarnya. Dan saat mobil tiba, rasanya adem saat mendengar Mas Supri, suami Mrs. Kylie, menyapa “Monggo Mas, Mba. Piye kabare?”, ujarnya ramah. Perasaan geli, lega, senang, lelah, semua campur aduk saat di tengah malam kota Darwin mendapati keramahan dan canda khas Jogja dari Mas Supri. Bahkan kami sempat diajak berkeliling sebentar untuk melihat Kota Darwin malam hari melewati tongkrongan-tongkrongan anak muda di sana.

Day 2

practice sweet jeanKami berangkat lebih awal dari jadwal sound check untuk berlatih bersama Sweet Jean (Sime Nugent & Alice Keath), pasangan musisi dari Melbourne. Kami berlatih di taman dan berdiskusi bersama. Kemudian kami melakukan sound check dan mendapatkan treatment yang sangat ramah dari staff yang bertugas.

Sweet Jean tampil terlebih dahulu dengan membangun suasana yang kelam, gothic, namun tetap ada romansa dalam penampilan mereka. Setelah mereka bermain selama 45 menit, kami naik ke atas panggung. Terdengar siulan, sorakan, dan tepuk tangan dari penonton yang (sepertinya) hadir di Darwin Railway Club pada malam sebelumnya. Kami langsung main 6 lagu dan mengeluarkan manuver-manuver andalan. Penonton selalu bertepuk tangan dengan meriah pada saat lagu berakhir. Mereka merespon canda saya dengan tepuk tangan dan gelak tawa. Seperti saat lagu ‘No Tears From My Eyes’ berakhir, saya bertanya kepada mereka apakah penampilan barusan cukup keras atau tidak. Memang aransemen lagu tersebut cenderung lebih keras daripada lagu yang lain. “Noooo!”, jawab penonton kompak. Kemudian saya lanjutkan dengan kalimat semboyan para rocker dan metalhead “If it’s too loud, you’re too old!”. Penonton tergelak sambil bertepuk tangan.

ear the lighthouse

Kami memainkan lagu ‘Baby It’s You’ sebagai lagu terakhir. Seperti penampilan kami di Indonesia, kami menampilkan Endah N Rhesa signature pose, mengajak penonton bernyayi mengikuti nada-nada yang saya lontarkan. Penonton merespon dengan meriah. Saat lagu berakhir, saya berakting seakan-akan pertunjukan sudah selesai. Penonton bertepuk tangan dan berteriak “More! More! More!”. Saya menatap penonton dan seolah-olah kaget dan memandu mereka untuk bersorak “We want more! We want more!”. Dan penonton mengikuti ajakan saya. Hahaha! Tentu saja pertunjukan memang belum berakhir, masih ada kolaborasi antara kami dan Sweet Jean. Kami berempat menutup pertunjukan malam itu dengan lagu karya singer-songwriter asal Darwin, Leah Flanagan, berjudul September Song. Standing applause mengggema saat akhir pertunjukan kami.

ear sweet jean

Saat kami sedang membereskan perlengkapan di belakang panggung, Andrew Ross menghampiri kami dan berkata bahwa beliau sangat puas dan senang dengan pertunjukan kami. Dia pun menyampaikan pujian dari penonton yang hadir untuk kami. “Some people said thanks to me because I bring you guys here.”, ujarnya berbinar-binar.

with andrew

Kami diperlakukan dengan sangat baik oleh semua staff produksi selama sound check dan pertunjukan. Sebagai timbal balik, kami memberikan souvenir dari Indonesia untuk mereka. Kami juga memberikan syal sutera dan dasi batik untuk Sweet Jean. Kami pulang ke penginapan dan tertidur lelap, puas.

Day 3

di taman darwin

Saat bangun tidur, kami baru merasakan betapa lelahnya badan ini. Kami hanya sempat berkeliling di sekitar taman dan mengabadikan momen-momen kami di sana dengan berfoto dan membuat video.

Pukul 5 sore, kami dijemput L.O yang bertugas menuju ke bandara. Ternyata antrian check in cukup panjang hingga kami tidak sempat makan malam. Banyak sekali orang Australia yang ingin berlibur ke Indonesia, Bali tepatnya. Sampai di pesawat, kami disambut dengan senyum hangat pramugara dan pramugari yang bertugas. “Hallo Mbak Endah, Mas Rhesa. Habis manggung di Darwin ya? Selamat pulang kembali ke Indonesia.”, ujar salah satu dari mereka. Kami segera menempati tempat duduk kami. Di tengah penerbangan, saat kami begitu lelah dan mulai lapar, tiba-tiba pramugara pesawat menghampiri kami dan memberikan makanan dan minuman. “Mbak Endah, ini ada makan malam untuk bertiga.”, ujar pramugara yang bertugas dengan ramah. Saya terkejut karena merasa tidak memesan makanan dan memastikan berapa biayanya. Namun pramugara tersebut menggelengkan kepala, “Nggak perlu bayar, Mbak.”, ujarnya ramah. Segera saya bangunkan Rhesa dan Rendi yang sedang tidur untuk menikmati makan malam yang tidak terduga ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada pramugara tersebut dan memberikan CD kami.

Alhamdulillah, kami tidak menemui kendala yang berarti selama proses pengurusan, perjalanan dan pertunjukan untuk Darwin Festival. Semua lancar dan malah cenderung cukup mudah. Banyak hal yang kami pelajari selama kami mengikuti Darwin Festival, Australia, seperti produksi panggung, tata lampu dan tata suara, kerja sama antar divisi produksi, dan lain-lain. Terutama mengenai disiplin waktu dan attitude saat bekerja. Pembelajaran-pembelajaran itulah yang menurut kami sangat berharga dan tidak tergantikan.

Berikut ini doa dan harapan yang mungkin terdengar klise tetapi tetap harus diungkapkan. Semoga, di masa depan, pemerintah Indonesia mengirimkan dan mendukung musisi-musisi Indonesia yang berencana tampil di festival-festival besar. Menurut saya, selain bisa tampil, musisi juga bisa belajar berbagai aspek sehingga nantinya bisa menerapkan banyak hal di tanah air ini.

Klise ya doanya…tapi jangan berhenti bermimpi, berharap dan berdoa.

Sincerely,

Endah

 

All Photos : Reiproject dok. by Rendi Raditya

Special thanks to Andrew Ross, Jala Adolphus, Harriet Robinson, Georgie Sedgwick, Cora Diviny, Josh, Al, all staffs and crews of Darwin Festival 2015.

Endah N Rhesa is proudly supported by the Northern Territory Government through the FestivalsNT initiative
Supported by the Consulate of the Republic of Indonesia and Playking Foundation
Indonesia – Darwin Presentation and Exchange is supported by the Commonwealth through the Australia-Indonesia Institute of the Department of Foreign Affairs and Trade

fest_nt_logo__large

 

playking_resized__large

aii_logo_inline__large

 

2 thoughts on “Endah N Rhesa di Darwin Festival 2015

  1. panicihuy says:

    hatiku hangat baca tulisan ini.. :’)
    terus berkarya dan berbagi cerita EndahnRhesa.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*