Setelah mengenal Rhesa…saya memahami bagaimana menjalani hidup ini dengan belajar…belajar.. dan belajar. Belajar tidak hanya secara formal saja, tetapi juga dalam kegiatan sehari-hari. Bagaimana tidak… mungkin saya bisa menggolongkan suami saya ini sebagai ‘control freak’ dan tergila-gila dengan spirit ‘Do-It-Yourself’. Dia bisa stress ketika ada sesuatu yang berkaitan dengan dirinya (atau Endah N Rhesa) berjalan di luar sepengetahuan atau kontrolnya. Dia juga stress apabila bekerja sama dengan orang-orang yang tidak memahami cara kerja atau bahasanya. Apabila itu semua terjadi maka hari-hari saya akan dihiasi dengan segala curhatan dan keluh kesahnya. Kemudian dia akan senang ketika saya men-take over semuanya dan membereskan semua ketidakberesan yang tersisa. Yes.. Ibarat catur yah.. dia Raja-nya saya Menteri-nya. Hehehe. Saya mulai terbiasa dengan cara kerja[…]

Saya senang dengan momen Idul Fitri. Setahun sekali ada momen untuk saling bermaaf-maafan. Bahkan minta maaf sama yang tidak kenal, baru kenal, atau kenalan yang lama tak bertemu dan tak pernah berkomunikasi sekali pun. Suatu momen yang mulia dan meluruhkan benteng ego diri sendiri yang selalu merasa benar ini. Namun satu hal yang saya sadari betapa sulit momen tersebut untuk memaafkan diri sendiri. Ya.. memaafkan diri terhadap kesalahan-kesalahan masa lalu. Baik kesalahan sepele maupun kesalahan yang menurut saya sangat memalukan… atau mungkin bukan kesalahan… tapi lebih kepada ketidakpedulian. Ignorance… Penyesalan terhadap sebuah kesalahan… saya begitu merasa amat bersalah jika saya melakukan kesalahan dan orang lain terkena imbasnya.. atau saya melakukan sebuah kesalahan saat proses pembelajaran namun ada yang harus ‘dikorbankan’…[…]