17 Agustus 1945

gambar-bendera-indonesia

Saat ini, seluruh warga Indonesia merayakan hari kemerdekaan Negara Indonesia yang ke-68. Merayakan dengan seremonial upacara bendera, pesta rakyat dengan berbagai lomba, atau mungkin merayakan dengan tidur seharian memanfaatkan kesempatan liburan, atau merayakan dengan membelanjakan tabungan di mal mumpung ada “diskon kemerdekaan”… Merdeka! Semua orang berhak merayakan dengan cara sendiri-sendiri.

Namun akhirnya kembali bertanya pada diri sendiri.. sudahkah diri ini merdeka? Merdeka dari bayang-bayang masa lalu (kalau kata ababil mah inget mantan ga bisa move on).. #halah :p
Atau merdeka dari jeratan hutang? Merdeka dari belenggu orang tua yang nggak membebaskan kamu memilih jurusan yang kamu inginkan? Merdeka dari pacar yang posesif? Merdeka dari boss yang killer? Atau merdeka dari sistem birokrat yang korup sehingga kamu, pegawai jujur, stress di dalamnya mau nggak mau jadi ikutan atau pura-pura tidak tahu? Merdeka dari tetangga yang suka bakar sampah sembarangan hingga asapnya mengganggu rumahmu? Merdeka dari calon mertua yang tak kunjung membuka pintu restu meminang anaknya? Merdeka minum air putih tanpa bayar? Merdeka dari kemacetan? Merdeka mendapatkan pendidikan dan pembangunan yang sama dengan teman-teman di Pulau Jawa? Atau yang sederhana saja… merdeka untuk bisa hidup layak.. makan minum tanpa harus berkejaran dengan rasa lapar yang amat sangat?

Merdeka adalah merdeka… tidak terbelenggu oleh suatu tuntutan apa pun…leluasa…tidak terikat pihak mana pun.. berdiri sendiri.. demikian arti yang ada di kamus.

Lalu kemudian perayaan seremonial di Istana Kenegaraan adalah sebagai simbolis rasa syukur dan peringatan sejarah bahwa bangsa ini telah merdeka.

Merdeka dari apa, kawan?

Ketika penjajah tidak lagi dalam wujud yang ‘berdarah-darah’ dan konteks ‘asing’, namun tidak ada yang lebih menyeramkan daripada penjajah yang menggerogoti teman se-tanah air ini dari dalam layaknya virus yang menyebar dan mematikan. Benahi mental dan etika melayani negeri ini barulah rayakan kemerdekaan dengan segenap hatimu. Jangan percaya dengan mereka yang bermuka dua dan memainkan angka-angka, kemudian mengorbankan yang muda untuk menjadi seperti mereka.

Kita tidak akan pernah merdeka selama kita tidak memimpin diri sendiri berlandaskan hati nurani. Hati nurani yang dimiliki setiap manusia yang menjadi landasan benar atau salah.. nurani yang usianya lebih tua dari hukum-hukum yang tercipta di dunia.. nurani yang sifatnya tidak memaksa, namun menumbuhkan rasa kasih sayang dan kejujuran. Nurani tidak berhubungan dengan fanatisme.. karena fanatisme adalah pengaruh dari pikiran.

Merdeka dari apa, kawan?

Apakah kamu merasa merdeka ketika mengetahui saudara-saudara kita sebangsa se-tanah air masih kesulitan mencari makan? Sekolah di tempat yang tidak layak, bahkan nyaris hancur luluh lantak? Makan dari sisa-sisa sampah dan kotoran? Dan semua bukan salah mereka namun diakibatkan oleh kegagalan sistem pemerintahan? Kemudian siapa yang menjamin kemerdekaan kita semua? Indonesia… satu-satunya nasionalisme yang riil mengharukan adalah ketika di dalam sebuah stadion bola menyemangati kontingen tanah air berkompetisi dengan negara lain. Dan apakah spirit itu akan terus terjaga dalam hal lainnya?

Saya tidak skeptis, kawan. Saya hanya lelah berkeluh kesah mencari arti kata merdeka dan menyadari tak ada gunanya marah-marah. Kemudian saya merenungi tulisan ini dan kembali pada realita. Apa yang bisa saya perbuat untuk bangsa ini? Lingkup lebih kecil.. kota ini? Lebih kecil lagi… komplek ini? Lebih kecil lagi… gang rumah saya ini…. dan yang lebih kecil lagi.. keluarga saya… dan diri saya sendiri?

Merdeka adalah…. dan saya belum tahu jawabnya. Karena hidup (dan tempat saya hidup) tak pernah lepas dari persoalan.

Dirgahayu Indonesiaku… akuĀ mencintai kau layaknya kekasih. Mencintai kau apa adanya, baik-burukmu… kelebihan dan kekuranganmu.
Semoga lahir generasi-generasi baru yang lebih baik untuk membangun negeri yang adil dan beradab.
Dan membuat Indonesia semakin layak untuk dicintai..

Merdeka!

Endah

 

3 thoughts on “Merdeka Adalah…

  1. Tesya dzulma says:

    Kereeen jadi terharu tapii yang paragraf satu itu benar banget šŸ˜€

  2. bimo says:

    saya akan lakukan apa yang saya bisa sumbangkan untuk bangsa ini, semoga bisa mencapai kemerdekaan yang menyeluruh

  3. Eka says:

    Mba endah memang TOP BGT dehhhhh … Love you mba tambah ngefans nih aku jadinya . hehehe :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*