Mengenang Denny Sakrie
Setelah saya dan Rhesa manggung di acara Mengenang Denny Sakrie pada hari Jumat (20 Februari 2015) kemarin, ada rekan media yang mewawancarai saya dan Rhesa yang melontarkan pertanyaan berikut :
“Apa yang paling berkesan dari alm. Denny Sakrie?”…
Pertanyaan tersebut membuat saya flashback dengan berbagai diskusi dan obrolan seru bersama almarhum.
Dan yang lebih seru sebenarnya kalau almarhum sudah mulai mengungkap fakta-fakta musisi atau momen spesial yang selama ini tidak pernah terungkap/ tertulis di media.
Almarhum seringkali menjadi saksi sejarah kejadian-kejadian besar hingga ranah pribadi musisi-musisi ternama..atau bahkan musisi yang sedang merangkak di dunia musik Indonesia.
Sosok Denny Sakrie bagi saya adalah sosok yang sangat mengesankan dan inspiratif. Mungkin itulah profesi yang akan saya lakukan jika sejak awal saya tidak berkarir sebagai musisi, yaitu ingin menjadi jurnalis musik yang kritis dan jujur apa adanya. Kalau bertemu alm. Denny Sakrie, saya seperti anak kecil yang siap didongengi beliau… Dongeng-dongeng nyata dan dekat dengan realita yang sedang saya geluti saat ini. Cerita tentang musisi dari berbagai jaman.
Tak jarang pula dari apa yang almarhum ceritakan ke saya mengandung banyak makna, bahkan juga kadang-kadang beliau menyelipkan nasehat..”Jangan ditirulah yang begitu-begitunya..”, atau “Nah jadi musisi tuh diharapkan bisa begitu..”, tanpa ada tendensi untuk menggurui.
Kami pernah berada dalam satu frame dan episode di acara Indonesia Morning Show (IMS) Net TV. Kalau tidak salah, saat itu membahas tentang musisi Indonesia yang tampil di luar negeri. Almarhum saat itu terlibat sebagai narasumber, dan tentunya almarhum tak lupa membawa salah piringan hitam untuk ditunjukkan kepada pemirsa sebagai bukti otentik bahwa musik Indonesia sudah sejak lama beredar dan diapresiasi di luar negeri.
Celetukan almarhum saat itu yang saya dan Rhesa selalu ingat adalah saat kami ditanya mengenai genre oleh host IMS. Almarhum berceletuk “Pop Pasutri.. Pop Pasangan Suami-Istri”.. Dan kami semua pun tertawa. Sekejap suasana talkshow sangat cair dan menyenangkan.
Pernah juga di sebuah momen ketika saya tampil dalam format lain, tidak bersama Rhesa. Saat itu saya tampil untuk sebuah acara televisi dan kebetulan almarhum hadir. Beliau memberi komentar usai penampilan saya.. “Ah kamu kalau nggak bareng sama Rhesa jadi biasa aja, ngga asyik..!”. Kemudian kami berdua tertawa dan berangkulan. Sejak awal kami mengeluarkan album, almarhum sangat jeli dalam menangkap konsep Endah N Rhesa. Disitulah memang letak kekuatan saya dan Rhesa yaitu saat kami berdua tampil bersama di atas panggung.
Saya sekuat tenaga menahan air mata saat tampil di acara Mengenang Dennie Sakrie kemarin sore. Saya dan Rhesa sangat menghormati almarhum. Sejauh yang saya kenal, almarhum adalah orang yang jujur apa adanya saat memberikan pendapat, kritik, opini dan kurasi musik dan karya-karya musisi tanpa ada unsur kepentingan apa pun. Saya memainkan lagu Thousand Candles Lighted, lagu yang menjadi simbol “menyalakan seribu lilin untuk mengenang orang yang kita hormati perjuangannya”, dan kemudian karena penonton minta tambah 1 lagu lagi maka saya “memaksa” penonton untuk berdonasi sebelum saya mainkan lagu penutup, “No Tears From My Eyes”. [Belakangan saya baru tahu dari putri almarhum, Fiqa, kalau almarhum dan Fiqa sangat suka dengan lagu When You Love Someone..]
Senang bisa mendedikasikan pernampilan kami untuk almarhum, tapi juga sedih karena merasa kehilangan.. Meskipun MC berkata “Sudah kita tidak perlu lagi bersedih-sedih ya, saatnya kita senang-senang..”, tetap saja sulit bagi saya untuk tidak sentimentil.
Saya teringat kalimat yang ditulis Mas Widyasena Sumadio di Path, yang mengutip perkataan almarhum semasa hidupnya bahwa almarhum pernah merasa kalau tidak banyak orang yang menyukainya. Bisa jadi karena keterusterangannya dan ceplas-ceplos apa adanya. Tapi acara “Mengenang Denny Sakrie” kemarin yang dihadiri teman-teman serta tampilnya musisi dengan berbagai genre bisa menjadi bukti kalau kita semua sayang dan hormat pada almarhum.
Selamat jalan Mas Densak…
Semoga puas menikmati dan mengkurasi musik-musik yang jauh lebih indah di surga. :’)
Sincerely,
Endah

2 thoughts on “Mengenang Denny Sakrie”
Saya jadi ikut sedih ka endah, semoga Almarhum diterima dan tenang disisiNya
terimakasih ya..