Banyak yang penasaran dan bertanya-tanya pada saya dan Rhesa…
……”Kalian berdua sehari-hari selain bermusik itu ngobrolin apa aja sih?”,
……”Bosen gak 24 jam bersama terus? Ngobrolin apa aja?”
……”Kalian biasa ngobrolin apa?”

Hahaha! Memang sebagian besar topik perbincangan kami adalah musik. Tapi di luar itu, kami juga banyak topik-topik menarik yang akhirnya saya putuskan untuk membuat sebuah kategori di blog ini “Obrolan Rhesa”. Kenapa “Obrolan Rhesa”? Karena biasanya Rhesa yang tiba-tiba melontarkan topik pembicaraannya. Siapa tahu dengan begini kalian tidak hanya mengenal saya, tapi juga mengenal Rhesa dari topik-topik pembicaraan yang dia lontarkan. 🙂

Kemarin malam, sepulang dari Urban Kitchen Pasific Place, jam 11 malam ternyata jalanan masih padat. Saya sudah ngantuk berat… tapi nggak tega ya ninggalin suami sendirian menyetir. Kayaknya kok nggak adil, gitu. Sama-sama kerja, capek, dia nyetir kok saya malah tidur-tiduran enak-enakan disetirin dia. Hahaha..! Tapi kadang kalau memang badan kurang enak sih saya tinggal tidur.. (cari-cari alasan ahhhh biar tiduuurr! :p ). Tiba-tiba Rhesa, (mungkin dia cari-cari topik ngobrol yang seru biar nggak ditinggal tidur.. hehe),  melontarkan sebuah pertanyaan :

R: “Hon, (panggilan sayang)… mungkin nggak sih suatu hari nanti sekolah-sekolah itu dah nggak kayak sekarang?”

E: “Jadi gimana misalnya?”

R: “Ya, misalnya aja.. sekarang kan semuanya sudah bisa dipelajari lewat youtube dan banyak video-video tutorial lain. Jadi mereka nggak perlu lagi adain kelas rutin”.

E: “Yah, kalau bisa jangan lah.. sekolah itu tetep penting sih.. masuk kelas dan bergaul dengan anak-anak lain itu kan bentuk interaksi sosial..jadi ya jangan diilangin..”

(Biasanya kalau gini saya jadi sisi yang konvensional dan Rhesa yang jadi sisi ekstrimis :p )

R: “Yaaa I know… tapi kan bisa aja kan semakin canggih teknologi dan informasi, nggak perlu lagi tiap hari ke sekolah. Bisa belajar lewat video conference.. itu pun juga bisa ketemu orang-orang lainnya. Beberapa kampus sudah menerapkan itu kayaknya. Setiap minggu ke 4 sama 7 libur.. kayaknya aku dulu gitu (Binus)”.

E: “Tapi menurut aku ya, secanggih-canggihnya teknologi, kan kita tetap perlu interaksi sosial yang riil. Nah sekolah dan kelas itu menurut aku adalah tempat yang baik untuk anak-anak tumbuh dengan belajar beradaptasi lingkungan sekaligus belajar bersosialisasi.”

R: “Gak perlu kelas kayak biasa gitu.. kan bisa ikut les renang, sepakbola, atau les apa gitu yang bisa ketemu sama teman-temannya. Bisa interaksi sosial juga kan?

E: “……mmm… yaaa… tapii kan…” (mikir… masih konvensional)

R: “Ya kan misalnya..belajar matematika atau yang hapalan nggak perlu kelas. Kalau ada praktik ya baru ada kelasnya.”

E: “Tapi kasian nggak sih kalau misalnya ketemu sama anak-anak lain yang sekolah biasa, trus dia nggak punya temen yang bisa setiap hari interaksi gitu? Misalnya mereka cerita-cerita tentang guru di kelasnya.. tapi dia nggak bisa ikutan. Kan kalau anak-anak kan biasa geng-geng an gitu.. ada kelompok-kelompoknya..”

R: “Ya.. bukan gitu.. ini maksudnya adalah semua sekolah menerapkan sistem seperti itu. Jadi udah nggak ada lagi sekolah biasa.”

E : “Ooh.. Hmm.. asal kurikulumnya jelas aja sih ya.. bisa aja sih kayaknya yaaa.. ” (nyerah tapi masih mikir)

Lalu pembicaraan terhenti karena sudah sampai rumah. He he he…

5 thoughts on “Edisi Sekolah Digital

  1. Setuju juga sama om rhesa,emang banyak bgt sekarang pelajaran yg bisa kita ambil lewat youtube misal,banyak tuh tutorial2 bahkan abang aku gk bisa masang dasi trus dia cari tuh tutorialnya di youtube (ya elah padahal adeknya bisa kok) -_-

    Tapi saya setuju juga sih sama tante rhesa,soalnya dalam kasus yang sama yaitu abang saya dan dasinya, memang ada tutorial tetapi akhirnya itu malah bikin ribet dan ternyata interaksi adalah cara terefektif di dalam hidup ini untuk melakukan sesuatu (re: akhirnya saya yg ajarin)

    Ya mungkin karna sebenarnya manusia adalah makhluk sosial,jadi perlu bantuan orang lain.

    Jadi kalo sekolah di tiadakan dan di ganti dengan “media” lain kayaknya kurang pas deh,tapi media2 lain itu bisa saja tetap sebagai sarana penunjang.

  2. *RALAT*

    Setuju juga sama om rhesa,emang banyak bgt sekarang pelajaran yg bisa kita ambil lewat youtube misal,banyak tuh tutorial2 bahkan abang aku gk bisa masang dasi trus dia cari tuh tutorialnya di youtube (ya elah padahal adeknya bisa kok) -_-

    Tapi saya setuju juga sih sama tante endah,soalnya dalam kasus yang sama yaitu abang saya dan dasinya, memang ada tutorial tetapi akhirnya itu malah bikin ribet dan ternyata interaksi adalah cara terefektif di dalam hidup ini untuk melakukan sesuatu (re: akhirnya saya yg ajarin)

    Ya mungkin karna sebenarnya manusia adalah makhluk sosial,jadi perlu bantuan orang lain.

    Jadi kalo sekolah di tiadakan dan di ganti dengan “media” lain kayaknya kurang pas deh,tapi media2 lain itu bisa saja tetap sebagai sarana penunjang saja untuk menambah kemudahan.

  3. kalo menurut saya, sekolah lebih baik tetap diadakan dan seperti yg dikatakan kak rhesa itu menurut saya pasti akan sulit terjadi walau bisa saja terjadi. Kalaupun itu terjadi, akan sangat sulit untuk jadi primary education buat anak-anak karena gak begitu kuat. Gak ada pengawas (guru) dan gak ada interaksi langsung yah.hehe *betul gak sih.hehe

  4. Nice thought Joel & Robby.. aku setuju kalau media-media itu kita terapkan sebagai penunjang. Interaksi sosial face-to-face memang tetap diperlukan dalam masa golden age pendidikan. Ada interaksi fisik, melihat langsung ekspresi wajah, membagi kue ke temen sebelah, bahkan berantem itu adalah hal-hal yang mewarnai masa kecil kita ya.. ada emosi yang berbeda saat belajar ‘langsung’ dengan melalui media. Hmm.. kita lihat saja nanti 25 tahun lagi dunia pendidikan akan seperti apa. 😀

  5. ly says:

    Udah banyak kok yang praktekin itu ^^. Coba googling deh homeschooling, unschooling, self directed learning. Sekolah memang bisa menjadi tempat bertemu memperoleh teman, tapi bukan satu-satunya tempat untuk bersosialiasi kan ya.. :)).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*