Sudah sejak lama saya mengetahui bahwa Rhesa senang sekali dengan bass Fodera, sebuah bass butik buatan Amerika yang ternama. Sejak tahun 2003, saya mengenal Rhesa demikian pula mengenal Fodera. Ia selalu antusias menunjukkan foto atau video Victor Wooten dengan bass Yin Yang-nya yang menawan. Sebagai musisi, tentu saja saya mencoba obyektif menggali karakter suaranya. Ya, memang enak. Namun awalnya saya berpikir, mungkin, karena Rhesa suka dengan Victor Wooten lalu apa yang dipakai jadi bagus. Hahaha! Ya, saat itu belum telingaku belum benar-benar peka. Rhesa pakai bass apa saja saat itu buat saya ya enak-enak saja. Hingga akhirnya musik Endah N Rhesa berkmbang, seiring dengan pengetahuan serta pendengaran. Ya, instrumen Endah N Rhesa di panggung hanya 3, yaitu gitar, vokal, dan[…]

Ada hal penting yang perlu teman-teman ketahui mengenai alasan saya menyukai Rhesa, sebelum akhirnya saya menikahinya. Saya sangat suka dengan rambut kribonya. Maaf, bukan kribo, melainkan kribas! Keriting bebas! Karena bentuknya terlalu ‘bebas tidak beraturan’ untuk dibilang kribo. Hahaha! Bisa dibilang, rambutnya yang menarik perhatian saya saat pertama kali berkenalan dan menjabat tangannya. “Aku suka laki-laki unik ini.”, demikian kesan pertama saya. Bukan rasa cinta, namun rasa tertarik untuk mengenal lebih jauh. Penampilan seseorang (yang unik) bagi saya adalah selubung dari kepribadian yang menarik┬ádan kreatif.

Suatu hari di mobil perjalanan pulang dari bandara menuju rumah… setelah bertukar pikiran (cenderung berargumen) mengenai esensi pernikahan.. menyambung topik pembicaraan kriteria suami dan istri.. akhirnya tibalah pada sebuah pembahasan yang cukup mendalam. Berikut obrolan saya dengan Rhesa yang, menurut saya, menyentuh hati… E : “Apa sebenernya kriteria terpenting dalam memilih pasangan pas mau nikah?” R: “Ya tiap orang beda-beda..” E : “Iya, tapi kira-kira apa? Kan ada yang maunya mukanya begini, fisiknya begitu, mesti S1, mesti PNS, dan sebagainyaa..?” R : “Kalau buat aku, selain seiman ya, yang penting itu ketika kita memilih keputusan untuk menikah…kita harus bisa mikir bareng-bareng. Gimana cara kita bisa survive, gimana cara kita bisa menjalankan keluarga ini.. ga hanya suaminya aja yang mikir, atau[…]

Pernahkah kau merasakan benci dengan sesorang? Sakit hati? Iri? Ya, setiap orang pasti pernah memiliki rasa seperti itu.. termasuk saya. (Dulu..) saya termasuk orang yang ambisius dan tidak pernah terima kekalahan. Setiap kali menerima kekalahan selalu merasa bersalah dan hancur berkeping-keping. Kekalahan dalam kompentisi atau kekalahan dalam hal lain… seperti… iri pada kesuksesan seseorang. Ya, dulu… saya termasuk orang yang demikian. Setelah akhirnya saya bertemu Rhesa… (ah.. dia lagi..), seseorang yang sabar dan fokus dengan apa yang dia kerjakan.. fokus dengan apa yang dia hasilkan.. Berikut ini adalah percakapan saya dengan Rhesa sekitar setahun yang lalu.. Saya ingat, waktu itu bulan puasa. *scene di mobil menembus kemacetan Jakarta