Saya beruntung menjadi istri dari suami yang rajin, gigih dan pantang menyerah. Itulah semangat yang sejak awal membuat saya yakin untuk menikahi suami saya, Rhesa. Saya masih ingat salah satu momen penting dalam hidup Rhesa yang akhirnya sekarang mengubah hidupnya.

Kapan pertama kali Rhesa belajar cara rekaman? Pertanyaan ini mungkin lebih jarang keluar daripada pertanyaan ‘pertama kali belajar bass’ atau ‘pertama kali bertemu Endah’. Padahal jawaban dari pertanyaan mengenai belajar rekaman tersebut akan sangat mengejutkan dan memberi inspirasi.

Rhesa adalah orang yang senang memberikan kesempatan kepada orang lain dengan cara ‘memberikan kail, bukan memberi ikannya’. Bahkan sifat seperti ini sudah ia tunjukkan sejak dia masih kuliah. Ini adalah cerita (yang bagi saya) sangat menarik tentang Rhesa.

Tahun 2004, saat Rhesa masih kuliah jurusan IT di Bina Nusantara, ia ingin memberikan kesempatan mengajar kepada salah seorang teman kami yang sudah lebih dulu pandai dalam melakukan proses rekaman. Meskipun rekaman sederhana dan hanya dilakukan di rumah, namun Rhesa ingin membantu teman kami tersebut agar mendapatkan penghasilan tambahan dengan cara mengajar di tempat kursus komputer milik seorang senior di kampusnya. Rhesa sudah melobi pemilik tempat kursus komputer tersebut agar membuka kelas kursus ‘basic home recording’ dan merekomendasikan teman kami ini sebagai pengajar. Syukurlah ternyata usul tersebut diterima. Pemilik tempat kursus meminta modul materi mengajar untuk 8 x pertemuan. “Nih contoh modul ngajar, nanti dibikin persis kayak gini ya. Ini syarat supaya bisa ngajar disini.”, ujar pemilik tempat kursus dengan serius. Rhesa menyampaikan kabar gembira ini kepada teman kami dan menyampaikan contoh modul serta hal-hal penting lainnya yang harus dipersiapkan untuk mulai mengajar.

Buku-Belajar-Sendiri-Cakewalk-Pro-Audio-versi-8-karangan-Agus-Hardiman-terbitan-Elex-Media-Komputindo-Gramedia
Gambar diambil dari website www.agushardiman.com

Setelah seminggu, Rhesa menanyakan modul materi mangajar kepada teman kami tersebut. Namun Rhesa sungguh kecewa dan kaget karena teman kami hanya memberikan buku ‘Belajar Sendiri Cakewalk Pro Audio’ oleh Agus Hardiman. “Wah, lo nggak bikin modul?” tanya Rhesa. “Enggak. Pakai buku ini aja nih. Lengkap semuanya.”, jawab temannya. “Iya, tapi ini kan buat tempat kursus dan harus menyusun materi untuk 8x pertemuan.”, jelas Rhesa. “Kalau materi ngajar nanti itu terserah gue. Tapi panduannya pakai buku ini”, jawab temannya. Rhesa menangkap kurangnya minat dan keinginan teman kami ini dalam menulis modul mengajar. Kemudian, tanpa berkata-kata lagi, Rhesa mengambil buku tersebut.

Rhesa sangat merasa nggak enak dan segan untuk bertemu pemilik tempat kursus bila tidak membawa modul mengajar, karena dia sangat tahu bahwa tempat kursus tersebut saat itu cukup populer dan pengajar-pengajarnya adalah senior-senior terbaik di kampusnya. Apalagi calon pengajar adalah orang yang ia rekomendasikan. Rhesa takut mengecewakan pemilik tempat kursus. Akhirnya Rhesa membaca buku Agus Hardiman tersebut, mempelajarinya,  dan kemudian mencoba menulis modul hingga kira-kira cukup untuk memberikan materi mengajar sejumlah 8x pertemuan. Ia merasa bertanggung jawab untuk hal ini, karena materi promosi kelas sudah naik dan ia sudah harus menyerahkan modul mengajar tersebut.

Beberapa hari kemudian, Rhesa menyerahkan modul mengajar tersebut ke pemilik tempat kursus. “Lho, ini lo yang buat? Temen lo ga jadi ngajar?”, tanya pemilik tempat kursus. “Jadinya gue yang ngajar kayaknya. Gak papa, ga?Temen gue kayaknya nggak bisa bikin modulnya, jadi gue yang bikin.”, jawab Rhesa dengan jujur.“Oh ya udah gapapa, kalau gitu langsung training aja.”, ujar pemilik tempat kursus. Dan itulah hari pertama Rhesa mendapatkan pengalaman dalam mengajar. Ia harus mempraktikkan cara mengajar di depan pengajar-pengajar tempat kursus tersebut, kemudian di review dan diberi masukan-masukan yang sangat berharga.

Rhesa mengajar untuk 8 x pertemuan di tempat kursus tersebut. Setelah itu, Rhesa sibuk melakukan eksperimen bersama saya untuk merekam musik di rumah. Sejak itulah album-album kami lahir dari tangannya sendiri.

—————-

 

ps : Terimakasih kepada Mas Agus Hardiman karena sudah menulis buku yang sangat bermanfaat. :’)

 

2 thoughts on “Mendadak Mengajar, Mendadak Rekaman!

  1. Terharu & merinding baca ini…sampai dibikin artikel khusus 😛
    Senang juga karena gak sia2 waktu nulis bukunya. Thanks Endah n Rhesa, sukses terus !

  2. Kami selalu menunggu karya-karya dari Mas Agus Hardiman. Sangat mencerahkan dan menambah wawasan. Salute & respect! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*