“Hi, besok di Ngayogjazz main jam, 16.45 ya. Usahakan nonton prosesi pembukaan. Biasanya humor banget.”. Demikian pesan singkat yang saya terima dari Pak Singo, seorang penulis dan kolektor musik asal Yogyakarta. Bujukan yang membuat saya segera koordinasi dengan tim untuk bisa sampai ke lokasi acara lebih cepat karena sebelum Ngayogjazz saya harus tampil terlebih dahulu di Plaza Ambarukmo untuk sebuah acara “Temu Sahabat Tunas Cilik” oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner dari Save The Children.

“Jarak 14 kilometer, Mbak. Kalau usai tampil jam 15.00 WIB kita langsung ke sana diusahakan sampai tepat waktu.”, ujar Tysa, Road Manager Endah N Rhesa. Baiklah, saya rasa semua sudah diatur sebaik mungkin.

Dan benar saja.. hari Sabtu, 18 November, semua berjalan sesuai rencana. Penampilan kami di Plaza Ambarukmo sesuai jadwal dan bisa berangkat ke Ngayogjazz tepat seperti waktu yang diprediksikan. Saya sangat bergairah di sepanjang perjalanan. Sedikit tak percaya, karena acara ini benar-benar diadakan di desa! Desa Kledokan, Selomartani, Kalasan, Sleman – Yogyakarta. Rute jalanan yang kami lalui berbeda dari biasanya. Benar-benar mengarah ke tengah desa. Saya melihat kanan-kiri jalanan, tidak ada tanda-tanda festival gadang dihelat sampai akhirnya bertemu papan penunjuk jalan yang mengarahkan kami ke lokasi acara.

Begitu sampai, saya melihat sebuah panggung yang tidak terlalu besar terletak di depan rumah warga. Ya, di depan rumah! Ini keren sekali! Sampai akhirnya saya sampai di lapangan cukup besar dengan panggung lebih besar dari yang saya lihat di tengah perjalanan tadi.

Saya masih takjub. Ini perhelatan raksasa yang melibatkan akar lini masyarakat. Di desa, di tengah masyarakat. Saya melihat penonton berbaur di depan panggung. Tak ada barikade, tak ada tenda backstage tertutup, tak ada batas antara penonton, penghelat acara, pemain.. semua berbaur. Oh, inilah Ngayogjazz. Sebuah festival yang begitu membumi. Saya masih takjub, bahkan hingga saya menulis blog ini, masih terkagum-kagum.

Saya berhasil menonton prosesi pembukaan. Oh, seniman-seniman panggung ini sangat jenaka, bahkan mereka tampil dengan kostum yang lengkap.. juga kostum tugu. Hahaha! Secara tersirat, melalui prosesi pembukaan yang teaterikal ini, saya bisa menangkap alasan memilih desa ini menjadi tempat perhelatan acara. Desa ini merupakan poros titik temu era jaman perjuangan. Perjuangan Pangeran Diponegoro, Mangkubumi, dan Jenderal Sudirman. Menghidupkan kembali semangat perjuangan, dan menyadarkan kembali makna kepahlawanan dan kemerdekaan yang kita miliki sekarang ini. Tanpa ada kesan menggurui sedikit pun, prosesi ini berhasil menanamkan nilai-nilai penghargaan terhadap kekayaan dan keberagaman bangsa ini. Salut!

Tepat prosesi ini selesai, Endah N Rhesa tampil di atas panggung. Sedikit grogi saat di atas panggung, melihat ribuan orang memasungkan matanya pada kami. Dan yang membuat takjub, mereka menonton dengan tertib dan khidmat. Bersorak-sorai saat lagu usai, menyimak setiap lirik dan improvisasi yang kami mainkan tanpa terlihat bosan. Dari atas panggung, saya bisa melihat ribuan orang berbaur menjadi satu. Bule, melayu, tioghoa, arab, berambut gimbal, berjilbab, anak-anak, orang dewasa hingga yang tua, bahkan teman musisi pun ada di tengah sana. Hati saya tergetar.. Festival ini tidak sedikit pun menampakkan kemewahan dan keglamoran, namun kekompakan seluruh masyarakat dari berbagai latar ini adalah kekayaan yang sesungguhnya.

Begitu usai tampil, tepat saat mulai gelap, kami rehat sejenak dan segera menuju Panggung Serbu untuk menonton Bianglala Voices dan mengadakan sharing session di Komunitas Jazz Mben Senen di salah satu rumah warga. Ya, rumah warga. Jadi ada beberapa tempat yang memang menggunakan rumah warga untuk beraktivitas. Cukup lama kami kongkow bersama teman-teman Jazz Mben Senen, kemudian kembali ke panggung utama untuk melihat Mas Bintang Indrianto bersama Bianglala Voices.

Sungguh! Saya tidak hanya menikmati musik-musik berkualitas di sini, tapi juga belajar membumi. Jika berpikir sebagai seorang penghelat acara…. acara ini tentu saja rumit sekali. Harus menyelaraskan suara satu desa untuk menjadi tuan rumah acara ini, meminta ijin menggunakan fasilitas-fasilitas desa bahkan rumah pribadi demi kelangsungan acara, beranda dan halaman rumah yang direlakan untuk kongkow serta mondar-mandir penonton acara. Saya tak habis pikir betapa kompleks dan hebatnya acara ini namun bisa berlangsung dengan baik dan lancar.

Kemudian saya introspeksi lagi ke dalam diri saya ini, yang pongah dan begitu individualis. Nilai-nilai kemasyarakatan yang pudar dikeseharian saya karena tinggal di kota (ya elah! Pamulang aja berasa kota!), tenggang rasa, toleransi dan gotong royong yang sudah sulit sekali didapat dikeseharian saya. Jika ingin melihat karakter kepribadian bangsa Indonesia, bisa dengan melihat Ngayogjazz. Sebuah festival tanpa prasangka… semua berniat baik di sini. Saya terharu!

“Boss, gue seneng banget. Siang tadi habis soundcheck gue istirahat di warung warga. Sudah lama banget gue nggak ngelihat ijo-ijo. Rumput, pohon-pohon. Sampai gue makan pisang goreng, ‘kress’, an**r, ini rasanya persis banget pisang goreng yang gue makan waktu kecil. Enak banget rasanya. Bahagia banget gue di sini boss..”, ujar Arivson, sound engineer Endah N Rhesa. Kami pun larut dalam haru berdua.

 

Terima kasih, Ngayogjazz, telah mengajarkan kami untuk terus membumi. Terima kasih juga kami haturkan untuk Mas Bintang Indrianto yang membuka kesempatan komunikasi kami dengan Mas Djaduk. Matur sembah suwun.

Salam cinta,

Endah

Foto diambil dari cuplikan video oleh Nala Satmowi.

YouTube Preview Image

7 thoughts on “Ngayogjazz 2017

  1. Gallant says:

    Sebagai (mantan) mahasiswa yang pernah tinggal di Jogja, saya sudah 2-3 kali datang ke Ngayogjazz dan baru tahun ini absen. Sedih rasanya. 🙁

  2. Wah, malahan beruntung dirimu sudah 2-3 kali. Kami ini baru sekali.. dan sungguh menanti untuk yang kedua dan ketiga kalinya.. :’)

  3. danang says:

    sering sering ke jogja ya mbak… biar ga di kota (pamulang) mulu..

  4. Azhar Azziz says:

    Sudsh kali ketiga menikmati ngayogjazz, dan yang saya paling merasa berbeda adalah khas nonton “ndlosor” nya kalo yang berada didepan panggung agar yang bagian belakang bisa nonton dengan lebih jelas dan tidak terhalang yang didepan. Oh iya, btw saya yang ndlosor depan sendiri kemarin?? dan penampilan kalian keren sekali. Ini kali kedua saya menonton kalian, dan masih takjub.

  5. popomangun says:

    Aku juga yang pertama kali nya mbak ke Ngayogjazz! pertama kalinya juga nonton Endah N Rhesa di panggung gede di Jogja pula! hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*