Pagi hari di satu Januari.. gerimis kecil dan suasana perumahan yang belum pulih dari gegap gempita pesta pergantian tahun malam tadi.. saya menuju teras rumah dan mengucapkan selamat pagi pada matahari yang bersembunyi di balik langit yang sendu mendung tiada henti. Tak mengurungkan semangat saya dan Rhesa akan panggung perdana di tahun 2012. Mengingat ramainya timeline twitter dan wall Facebook mengenai rencana pertunjukan hari ini. Ya, kami hendak manggung di D’Mall Depok sekitar b’da maghrib. Meskipun perbatasan antara Jakarta-Tangerang-Depok cukup berdekatan, namun intensitas manggung di dua kota terakhir tidaklah sering. Ini adalah kesempatan yang baik dalam mengawali tahun bersama earFriends di Depok.

Lidah saya kelu dan mata berkaca-kaca ketika naik ke atas panggung Aksen 2011 yang diadakan SMA 3 Surakarta. Saya tidak menyangka akan hadir di tengah-tengah 2500 orang di Taman Balekambang yang nyaman. Saya pikir, tidak banyak yang akan hadir.. saya pikir tidak banyak yang antusias. Ternyata saya salah.

Finally, after incessant distribution of Nowhere to Go (2009) and Look What We’ve Found (2010) albums in Indonesia, under the auspices of demajors and REIProject independent labels, Endah N Rhesa release their albums in Korea in collaboration with Korean label and distributor iFeel Music. To date, “Nowhere to Go to” sales reached 22000 copies whilst Look What We’ve Found reached 9000 copies. This is a signal that the Indonesian music industry has not been finished. “The mushrooming of independent musicians who dare to show their unique concept and creativity in marketing will take them to a bigger step in, even a higher level, such as opening promotion and information access across borders and introduce their music all over the continent. Endah N Rhesa is Endah Widiastuti (guitar vocals) and Rhesa Aditya (Bass) who[…]

“Kamu itu ‘kan anak yang tidak diharapkan..”, ujar Mama saya. “Hah? Maksudnya?”, tanya Endah kecil. “Iya, dulu itu mama maunya cuma punya 2 anak. Mas Arief dan Mbak Mita. Eh, nggak taunya kebobolan, hamil kamu.”.. kata Mama. Endah Kecil terdiam … dengan muka sedikit sedih. “Eh, nggak tahunya… ini anak mama yang pinter nggitar, suaranya bagus, pinter nyanyi, pinter ngaji… Mama bersyukur punya anak bungsu ini..”, ujar mama sambil ‘uleng-uleng’ Endah Kecil yang tertawa bahagia. Saya masih berkaca-kaca setiap kali mengingat percakapan tersebut. Saya masih ingat saat mama saya (almarhumah) mengajari saya nyanyi Edelweiss dan lagu-lagu dari film The Sound of Music untuk tampil di arisan kantor dan keluarga. Mama saya guru gitar yang baik, beliau tahu cara mengajari gitar untuk[…]