Ya ampun.. ya ampuun.. baru ditulis sekaraaang padahal Mendadak Nobarnya udah dari kapaaan.. Hahaha! Maklumlah.. karena kemarin-kemarin ini saya sibuk dengan rumah dan manggung yah. Jadiiiii… setelah lama pindah di rumah sendiri (lebih dari setahun) rumahnya masih kosyoong.. Jadilah saya dan Rhesa setiap kali ada waktu luang menyempatkan diri belanja-belanji keperluan RT sana-siniiii.. (eh.. kok jadi curhat OTT).. kembali keee…. Jadi, saya akan cerita waktu film Cita-citaku Setinggi Tanah ini munncuul di bioskop yah. Ternyata… keberadaannya goyah dalam waktu 1 minggu, karena banyak hal yah.. (capek kalau mau ditulis dimarih karena bisa bikin essay 10 halaman.. *sotoy* :p ). Namun intinya, karena jumlah yang nonton film ini tidak memenuhi quota bioskopnya. Sehingga…. tiba-tiba… saya ditelpon Nia, asisten produser CCST,[…]

“Hah… cita-cita setinggi tanah? Nggak salah?”… Itu adalah reaksi yang saya lontarkan saat Eugene Panji menghampiri saya dan Rhesa untuk mengerjakan proyek film ini. “Iya Ndah, Rhesa.. Cita-citaku Setinggi Tanah. Ceritanya tentang…bla..bla..bla.. “, papar Panji panjang lebar. (baca sinopsisnya di sini yaa) Saya dan Rhesa tidak pernah membayangkan bisa terlibat dalam sebuah pengalaman menyenangkan seperti ini. Menciptakan lagu untuk sebuah film yang bercerita tentang anak-anak. Dan Panji memberikan kami tanggung jawab lebih dari itu… yaitu sebagai penata musik filmnya. “Mau coba nggak?”, tantang Panji. “Kenapa Endah N Rhesa? Kami belum punya pengalaman jadi penata musik film. Kalau untuk bikin lagu ya memang bisa, tapi penata musik film bukan tugas yang gampang.”, tanya Rhesa “Gue melihat kalian punya spirit yang sama[…]

Pernahkah kau merasakan benci dengan sesorang? Sakit hati? Iri? Ya, setiap orang pasti pernah memiliki rasa seperti itu.. termasuk saya. (Dulu..) saya termasuk orang yang ambisius dan tidak pernah terima kekalahan. Setiap kali menerima kekalahan selalu merasa bersalah dan hancur berkeping-keping. Kekalahan dalam kompentisi atau kekalahan dalam hal lain… seperti… iri pada kesuksesan seseorang. Ya, dulu… saya termasuk orang yang demikian. Setelah akhirnya saya bertemu Rhesa… (ah.. dia lagi..), seseorang yang sabar dan fokus dengan apa yang dia kerjakan.. fokus dengan apa yang dia hasilkan.. Berikut ini adalah percakapan saya dengan Rhesa sekitar setahun yang lalu.. Saya ingat, waktu itu bulan puasa. *scene di mobil menembus kemacetan Jakarta