Pagi itu, Jumat 15 Juli 2016, saya bangun lebih pagi dari biasanya. Yah, jam 7 pagi lah, hehehe. Terdengar ciutan burung-burung yang bertengger di pagar tembok kuburan seberang rumah. Sungguh sepi sekali pagi ini. Jauh lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena seminggu setelah lebaran. Hari ini kadar sensitifitas saya cukup tinggi. Penginderaan, perasaan, dan badan, semua sungguh sensitif. Ya, ini hari pertama saya menstruasi. Dan ini hari yang tepat untuk saya membaca naskah film Athirah yang dikirimkan Mba Mira Lesmana dan Mas Riri Riza sekitar 2 minggu lalu. Dari sejak dikirimkannya naskah via email, Rhesa selalu mengejar-ngejar saya untuk memulai menggarap OST Athirah. Saya selalu menjawab, “Tenang, deadlinenya masih tanggal 25 Agustus. Mendingan kita bereskan dulu yang lain.”, dalih saya.[…]

  Siang tadi saya menonton Kung Fu Panda 3 bersama Rhesa. Master Shifu ingin murid kung fu-nya, Po (si Panda) mengajar kung fu ke teman-temannya. Po awalnya menolak karena merasa tidak pada kapasitasnya untuk mengajar kung fu. “There is always something more to learn, even for a master.”, ujar Master Shifu. Akhirnya Po (dengan berat hati) mengajarkan kung fu ke teman-temannya yang sebenarnya sudah master di bidangnya. Apa yang Po takutkan terjadi. Bukannya berhasil, malah gagal total dan Po menjadi bahan olokan di mana-mana. Kemudian¬†Po protes pada Master Shifu kalau ia ingin berhenti mengajar. Master Shifu : Kenapa berhenti mengajar? Atau karena merasa dipermalukan? Po : Karena aku merasa nyaman dengan yang aku punya sekarang. Shifu:¬†If you only do what[…]

  Ya ampun.. ya ampuun.. baru ditulis sekaraaang padahal Mendadak Nobarnya udah dari kapaaan.. Hahaha! Maklumlah.. karena kemarin-kemarin ini saya sibuk dengan rumah dan manggung yah. Jadiiiii… setelah lama pindah di rumah sendiri (lebih dari setahun) rumahnya masih kosyoong.. Jadilah saya dan Rhesa setiap kali ada waktu luang menyempatkan diri belanja-belanji keperluan RT sana-siniiii.. (eh.. kok jadi curhat OTT).. kembali keee…. Jadi, saya akan cerita waktu film Cita-citaku Setinggi Tanah ini munncuul di bioskop yah. Ternyata… keberadaannya goyah dalam waktu 1 minggu, karena banyak hal yah.. (capek kalau mau ditulis dimarih karena bisa bikin essay 10 halaman.. *sotoy* :p ). Namun intinya, karena jumlah yang nonton film ini tidak memenuhi quota bioskopnya. Sehingga…. tiba-tiba… saya ditelpon Nia, asisten produser CCST,[…]

“Hah… cita-cita setinggi tanah? Nggak salah?”… Itu adalah reaksi yang saya lontarkan saat Eugene Panji menghampiri saya dan Rhesa untuk mengerjakan proyek film ini. “Iya Ndah, Rhesa.. Cita-citaku Setinggi Tanah. Ceritanya tentang…bla..bla..bla.. “, papar Panji panjang lebar. (baca sinopsisnya di sini yaa) Saya dan Rhesa tidak pernah membayangkan bisa terlibat dalam sebuah pengalaman menyenangkan seperti ini. Menciptakan lagu untuk sebuah film yang bercerita tentang anak-anak. Dan Panji memberikan kami tanggung jawab lebih dari itu… yaitu sebagai penata musik filmnya. “Mau coba nggak?”, tantang Panji. “Kenapa Endah N Rhesa? Kami belum punya pengalaman jadi penata musik film. Kalau untuk bikin lagu ya memang bisa, tapi penata musik film bukan tugas yang gampang.”, tanya Rhesa “Gue melihat kalian punya spirit yang sama[…]