Semua kesentimentalan ini diawali saat kami membicarakan kematian… malam tadi.. Untuk Suamiku Tercinta… Tidak ada yang abadi di dunia, kecuali Allah dan cinta yang kita miliki… baik saat kita hidup maupun tiada.. sebuah impian tertinggi kita berdua adalah selalu bersama di dunia dan akhirat Apa yang sudah kita lakukan selama ini tidak hanya semata-mata dengan tujuan bahagia.. tapi juga ibadah tidak sedikit pun ada penyesalan di hatiku memiliki suami seperti dirimu ketika aku memperkenalkan dirimu di atas panggung dengan kata-kata.. “laki-laki yang paling ganteng di sini”.. adalah kenyataan yang aku alami.. tak peduli mereka yang mentertawakan atau mencemooh atau meremehkan dirimu… kita.. hubungan ini.. pekerjaan ini.. semua karena kita menjalaninya dengan sepenuh hati kalau aku tiada.. dan kamu ada.. berdoalah[…]
Tag: family
Lidah saya kelu dan mata berkaca-kaca ketika naik ke atas panggung Aksen 2011 yang diadakan SMA 3 Surakarta. Saya tidak menyangka akan hadir di tengah-tengah 2500 orang di Taman Balekambang yang nyaman. Saya pikir, tidak banyak yang akan hadir.. saya pikir tidak banyak yang antusias. Ternyata saya salah.
“Kamu itu ‘kan anak yang tidak diharapkan..”, ujar Mama saya. “Hah? Maksudnya?”, tanya Endah kecil. “Iya, dulu itu mama maunya cuma punya 2 anak. Mas Arief dan Mbak Mita. Eh, nggak taunya kebobolan, hamil kamu.”.. kata Mama. Endah Kecil terdiam … dengan muka sedikit sedih. “Eh, nggak tahunya… ini anak mama yang pinter nggitar, suaranya bagus, pinter nyanyi, pinter ngaji… Mama bersyukur punya anak bungsu ini..”, ujar mama sambil ‘uleng-uleng’ Endah Kecil yang tertawa bahagia. Saya masih berkaca-kaca setiap kali mengingat percakapan tersebut. Saya masih ingat saat mama saya (almarhumah) mengajari saya nyanyi Edelweiss dan lagu-lagu dari film The Sound of Music untuk tampil di arisan kantor dan keluarga. Mama saya guru gitar yang baik, beliau tahu cara mengajari gitar untuk[…]
Hehe.. judulnya kayak cerpen-cerpen majalah perempuan gitu ya. Banyak sekali yang menanyakan saya, via twitter, pertanyaan secara langsung kala bertemu, bahkan interview dari para jurnalis yang ingin mengetahui kehidupan kami di luar musik. Meskipun sudah pernah dibahas di majalah Femina bulan lalu dan di majalah Rolling Stone Indonesia, saya ingin memberikan gambaran untuk teman-teman yang masih penasaran. Ketika saya dan Rhesa memutuskan untuk menikah setelah berpacaran hampir 6 tahun lamanya, sebenarnya alasannya sangat sederhana : kami ingin menjalani semuanya berdua. Karir bermusik, keluarga, suka duka. Saya tidak bisa membayangkan apabila saya menikahi laki-laki yang bukan seniman seperti Rhesa. Hmm.. mungkin bisa tidak bahagia. Apa yang kami lakukan setiap hari?