image
Rolling Stone Cafe Jakarta, 27-11-2015

Tanggal 5 Desember 2015

Sudah 6 tahun kami menikah, belum dianugerahi anak tetapi sudah melahirkan 4 album studio, 1 EP (Real Life), 2 album terbatas untuk amal (Musikalisasi Puisi Angin Pun Berbisik dan Cita-citaku Setinggi Tanah OST) hasil dari 11 tahun bermain musik bersama. Bosan? Tidak… Kami tidak pernah bosan bersama.

Mungkin banyak orang beranggapan kami adalah pasangan ideal, damai, penuh cinta. Padahal tidak juga. Kami hidup biasa saja, layaknya pasutri lain, layaknya anak band lain. Kadang ada pertengkaran, bersitegang, berbeda pendapat, bahkan sampai bertangisan. Dalam berumah tangga dan main musik pasti ada konflik. Konfliknya pun sama seperti yang lain. Masalah keuangan, waktu, prioritas, mood, dan sebagainya. Jadi apa istimewanya hubungan kami berdua? Tidak ada. Kami adalah pasangan biasa yang memiliki banyak kekurangan, dan juga kelebihan.

Rumah tangga yang ideal? Seperti apa contohnya? Ideal menurut siapa? Hidup berumah tangga memerlukan kesepakatan yang dirancang bersama, komunikasi yang terjalin baik tanpa prasangka. Bukan ideal berdasarkan persepsi orang lain yang memaksa kita untuk mengikuti ‘standar’ yang mereka tetapkan.

Saya dan Rhesa memiliki kesepakatan-kesepakatan yang berbeda dengan keluarga lain. Hal itu dipengaruhi dari latar belakang profesi dan ritme hidup kami. Keputusan-keputusan, baik musik dan rumah tangga, selalu diambil secara mufakat. Masalah sekecil apa pun harus dibahas hingga ada jalan keluarnya. Caranya? Ya, kadang perlu adu argumen dahulu, bersitegang, ngambek, dengan tujuan mencari solusinya. Kalau belum menemukan solusi biasanya kami catat di sebuah notes supaya suatu hari teringat dan kembali dibahas untuk dicari jalan keluarnya.

Kami mungkin ‘terlihat’ hebat dan kompak di panggung. Sebenarnya, kami memiliki sisi rapuh juga. Namun, sisi inilah yang membuat hubungan ini menarik. Cinta adalah hal sulit dideskripsikan. Jika bicara cinta meluap-luap penuh asmara dan gairah, kami bukan pasangan yang memiliki karakter demikian. Kami adalah pasangan yang hangat suam-suam kuku (tidak ‘panas’), stabil, terkontrol, dan semuanya dalam batas biasa saja. Kami adalah pasangan yang lahir dari persahabatan dan pekerjaan. Kenikmatan hubungan percintaan kami layaknya membuat sebuah ‘blue print’ perusahaan dan kemudian menjalankan step-by-step untuk meraih tujuan dalam setiap pergerakannya. Apakah terdengar romantis? Tidak. Tidak seperti yang kalian lihat di atas panggung. Kami adalah pasangan koleris yang realistis. Romantisme kadang hanya selewat saja, sesuai kebutuhan.

Jika ada laki-laki yang menghujani saya dengan kata-kata cinta, itu bukan Rhesa. Rhesa adalah laki-laki yang menghujani saya dengan memberikan kebebasan untuk melakukan apa yang saya sukai dan berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya. Dia rela mempertaruhkan segala yang dia miliki untuk kebahagiaan saya. Dan semua dilakukannya tidak dengan kata-kata. Dia memang tidak suka banyak bicara tentang cinta, tapi dia akan banyak bicara tentang mimpi dan masa depannya bersama saya.

Jika ada perempuan yang manja, keras kepala, posesif, dan angkuh. Itu saya. Namun, dibalik sifat-sifat buruk saya,  saya bersedia mati untuk membuktikan kesetiaan saya terhadap sesuatu yang saya percaya. Jika saya percaya dengan Rhesa, maka saya bersedia untuk setia bersamanya hingga ajal nanti. Kepercayaan inilah yang membuat kami berdua memiliki toleransi yang cukup besar antara satu dengan yang lain. Untuk apa berprasangka ketika sudah saling percaya? Dan ketika dikhianati, semua kembali kepada keikhlasan untuk menerima sisi rapuh masing-masing. Manusiawi. Biarkan Yang Maha Kuasa membalasnya. Namun kami akan tetap menjalani semua dengan penuh komitmen. Dan ketika cinta sudah beralih menjadi sebuah tanggung jawab, ternyata tantangan pun semakin besar. Semakin besar untuk kembali berjuang mewujudkan apa yang diimpikan. Kebahagiaan bersama.

Saya menulis ini bukan berarti ada masalah terjadi pada keluarga kami. Bukan itu. Saya menulis ini karena saya khawatir dengan puja-puji orang lain mengenai hubungan kami berdua, sehingga mereka melupakan bahwa setiap hubungan memiliki tantangan dan ‘idealisme’ masing-masing. Jangan pernah bandingkan kisah cinta kalian dengan siapa pun dan jangan memiliki keinginan untuk menjadi seperti orang lain. Ciptakanlah sendiri kisah cinta kalian dan keseruan kalian. Nikmatilah setiap tetes air mata perjalanan hidup kalian. Jangan buang waktu untuk melihat dan membaca hubungan orang lain kemudian membandingkannya dengan hubungan yang kalian jalin. Buatlah sejarahmu sendiri. Pun tidak tertulis, ia akan ada dalam memori.

Selamat ulang tahun pernikahan yang ke 6, suamiku, sahabatku. Semoga kita berdua bisa menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, warahmah.. 🙂

Love,

Endah

Foto : Guswib

ps: silahkan unduh gratis wedding album “Real Life” di website Endah N Rhesa sepanjang bulan Desember ini.

 

8 thoughts on “It’s been 6 years..

  1. Etek n Doug says:

    Aaaaak…Happy Anniversary ya Cu, semoga langeng, penuh berkah…Aaamin..sorry telat ngucapinnya..

  2. Waaaa terima kasih mak etek & doug!! We miss youuuu!!

  3. Manji says:

    Tulisan luar biasa.

    Selamat merayakan 6 tahun pernikahan penuh persahabatan.

  4. Andrew says:

    Happy anniveraary Endah N Rhesa…
    Musikalitas yg terlahir dr cinta….
    i’m one of your big fans…
    suatu hari pengen buat video prewedku pakek backsong “seluas harapan”…
    karena entah apa yg terjadi d dalam rumah tangga mbak, tp q ngeliat kalian perfect bgt lah, dan q harepin hdup sperti itu…
    Terimakasih untuk karya dan cinta ke musik 🙂

  5. Anjiiiii!!! Terima kasih banyak! :’)

  6. Andrew, terima kasih banyak ya.

  7. Aphro says:

    Aaak, aku berkaca-kaca baca tulisannya :’) Semoga selalu bahagia dengan mimpi-mimpi yg terwujud dan kesetiaan sampai maut memisahkan ya mbak, mas..
    Believe it or not, EaR adalah salah satu relationship goals bagi pasangan-pasangan musisi yg masih berpacaran. =))
    Teruslah menginspirasi lewat cinta yg kalian bagikan ketika diatas panggung, dan cinta yg kalian bagikan lewat karya-karya manis untuk belantika musik indonesia ?

    Love you both!

  8. gatot hendraputra says:

    waaa… tulisan yg mantab! terimakasih gw belajar banyak dari kalian, dan gw merasa beruntung bisa berteman baik dengan kalian. semoga Allah selalu melimpahkan berkah dan ridho-Nya buat kalian beruda, amien!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*