Athirah Poster 70 x 100 Edited SMALL SIZEPagi itu, Jumat 15 Juli 2016, saya bangun lebih pagi dari biasanya. Yah, jam 7 pagi lah, hehehe. Terdengar ciutan burung-burung yang bertengger di pagar tembok kuburan seberang rumah. Sungguh sepi sekali pagi ini. Jauh lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena seminggu setelah lebaran. Hari ini kadar sensitifitas saya cukup tinggi. Penginderaan, perasaan, dan badan, semua sungguh sensitif. Ya, ini hari pertama saya menstruasi. Dan ini hari yang tepat untuk saya membaca naskah film Athirah yang dikirimkan Mba Mira Lesmana dan Mas Riri Riza sekitar 2 minggu lalu.

Dari sejak dikirimkannya naskah via email, Rhesa selalu mengejar-ngejar saya untuk memulai menggarap OST Athirah. Saya selalu menjawab, “Tenang, deadlinenya masih tanggal 25 Agustus. Mendingan kita bereskan dulu yang lain.”, dalih saya. Sebenarnya saya butuh persiapan mental cukup kuat dan momen yang pas (yaitu saat period saya datang! Hahaha!) untuk membaca naskah film Athirah. Entah kenapa, sejak awal saya merasa perlu formula tersebut untuk ‘melahirkan’ lagu ini.

“Film ini ceritanya tentang Ibu Athirah, yang dia harus menerima kenyataan bahwa suaminya menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda. Tapi bukannya menjadi hancur dan berantakan, Ibu Athirah ini justru berusaha kuat. Malah ada suatu momen dia berusaha mempercantik diri, berdandan, berusaha untuk menarik perhatian suaminya lagi. Meskipun pada kenyataannya, dia masih tidak percaya kenyataan tersebut menimpanya.”, jelas Mas Riri saat berjumpa di kantor Miles Production 2 minggu yang lalu. Saat itu hati saya tergetar, bahkan saya tidak bisa menahan air mata saya di depan dua film maker ternama tersebut saat beliau-beliau menjelaskan filmnya, esensinya, proses syutingnya, karakternya, menunjukkan trailer filmnya. Oh Tuhan! Cerita yang indah di balik kegetiran yang mendalam. “Tetapi kami tetap ingin ada optimisme, Endah, Rhesa. Nah, bagaimana interpretasi kalian berdua silahkan diterjemahkan melalui lagunya.”, kata mas Riri menutup penjelasannya sekaligus melempar bola kreatif ke saya dan Rhesa. “Rencananya lagu kalian akan di tempatkan di ******* (spoiler alert!-red).”, ujar Mba Mira. Saya menangkap bahwa lagu yang nanti kami ciptakan harus lah menjadi sebuah rangkuman, kesimpulan, dan gambaran kisah serta karakter Athirah.

Dan pagi itu di hari Jumat, saya sarapan cukup, streching badan sebentar, menghirup napas dalam-dalam. Kemudian saya duduk di ruang hobi yang terletak persis di samping ruang tamu rumah saya. Ruang yang cukup membangkitkan mood untuk berkreasi. Saya sudah wanti-wanti manajer dan tim saya untuk tidak mengganggu saya hari itu. Telepon genggam pun saya ‘airplane mode‘ agar tidak ada distraksi. Rhesa sudah saya pesankan untuk bangun siang agar tidak mengganggu proses ‘drafting’ lagu Athirah ini.

Kemudian setelah saya pastikan semua siap, terutama siap mental, akhirnya saya membuka email melalui telepon genggam dan membaca naskah perlahan. Saya membacanya perhalaman, peradegan, penuh pendalaman. Dada saya berkecamuk selama membaca naskahnya. Ada perasaan marah, iba, sedih, kemudian memaklumi. Tak jarang saya berhenti sesaat untuk menangis terisak-isak. Ekspresi, setting tempat, emosi, cerita yang saya baca tervisualisasi dengan jelas di kepala saya. Tidak ingat berapa lembar tisu sudah saya habiskan untuk mengelap air mata dan cairan hidung yang tak henti-hentinya mengalir. Begitu selesai membaca naskah, saya tertegun. Kembali terisak-isak. Oh Tuhan, saya kangen sekali papa, ibu, kakak-kakak, dan terutama alm. mama saya.

Saya tidak langsung menulis lagu. Sejenak saya menenangkan diri. Menelaah kembali cerita tadi. Mendalami esensi dan hikmahnya. Menghubungkan relasi diri saya pada ceritanya. Selang beberapa belas menit kemudian saya baru mengambil kertas. Saya membuat sketsa lagunya, melodi dan liriknya. Saya rekam melalui telepon genggam saya dan kemudian saya kirim ke Rhesa. Saya sengaja tidak mau menyanyikannya langsung, karena mungkin akan kacau karena keterlibatan emosional yang keterlaluan.

Sambil menunggu Rhesa bangun tidur, saya melanjutkan kegiatan rumah sambil kemudian bersantai sejenak.

Siang menjelang sholat Jumat, saya bangunkan Rhesa. Saya siapkan sarapan sederhana, memesan makan siang (ya, saya tidak masak!), dan mengingatkannya untuk berbenah diri menuju masjid. Jumat yang tenang. Saya merasa hari itu jauh lebih tenang daripada hari-hari biasanya. Selang Rhesa bersiap, berangkat, dan pulang ke rumah, saya masih mencoba mengutak-atik sketsa lagu yang tadi saya rekam. “Mana coba dengar lagunya.”, kata Rhesa begitu pulang dari masjid. Saya mengambilkan telepon genggamnya dan membuka data yang saya kirimkan. Rhesa menyimak. “Sudah bagus draft-nya. Tapi ada yang kurang. Bagiannya perlu ditambah sedikit. Liriknya kurang kuat. Coba garap lagi, cari bahasa yang lebih dalam maknanya. Rasanya perlu banyak istilah, karena Ibu Athirah dan filmnya cukup filosofis.”, jelas Rhesa.

Di balik romantisme rumah tangga, Endah N Rhesa adalah tim kerja. Biasanya, saya membuat sketsa lagu dan lirik. Rhesa bertanggung jawab pada musik, aransemen dan kemasannya. Bukan berarti Rhesa tidak menulis lagu, dia seorang melody maker yang handal! Hanya besar porsi garapannya saja yang terbagi agar lebih efektif dan cepat saji. Kami berdua sudah saling tahu kapasitas masing-masing, jadi cukup saling menghormati saat terjadi proses argumentasi. Saya percaya pendapat Rhesa, begitu pula sebaliknya. Segera saya benahi lirik dan mencari gaya penulisan yang lebih pas. Sedikit cukup lama, menghabiskan sore hari dengan bermain kata-kata.

Sketsa awal sudah cukup kuat, intro dan cara main gitar sudah pas. Rhesa sudah suka, namun dia masih memotivasi saya untuk mendapatkan frase yang tepat di pengulangan lagu bagian dua. “Itu harus sebuah kalimat yang kuat, Hon (panggilan dia ke saya). Apa ya kira-kira?”, ujarnya sambil ikut berpikir. Kemudian saya teringat sebuah adegan yang menyentuh hati saya, tonggak luluhnya perseteruan antara Ucu (anak sulung Ibu Athirah) dengan Ibu Athirah. Sebuah momen yang pasti pernah kita rasakan, sebagai anak, yang dongkol kepada ibunya namun akhirnya luluh karena menyadari bahwa mau bagaimana pun kondisi dan situasi yang terjadi, cinta seorang ibu kepada keluarga memiliki keikhlasan yang tidak pernah ada bandingannya. Kemudian saya spontan nyanyikan di depan Rhesa, “Jika Tuhan yang menghendaki, jangan menolak atas semua hal yang telah terjadi.”.

image-23-08-16-04-07-16
Usai memainkan lagu Ruang Bahagia di press conference Athirah (22/08/16).

Dan kemudian pecahlah lagi isak tangis saya. Kali ini seperti ledakan emosi yang saya tahan sedari pagi tadi. Rhesa mengamati saya sambil duduk di hadapan saya. Dia membiarkan saya menangis keras-keras. Dia tahu, bahwa saya teringat alm. mama saya. Saya teringat semua memori sentimentil masa kecil saya. Saya teringat momen-momen berat dalam berkeluarga. Dan memang semua terjadi bukan karena kehendak kita, manusia, tetapi karena kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

“Sudah nangisnya?”, kata Rhesa lemah lembut. Saya tahu dia pun ikut tergetar hatinya. Tapi dia harus pegang kendali proses produksi lagu ini dengan baik. Dia harus bisa membuat saya kembali berpijak ke bumi. Ini adalah alam nyata yang sedang kita hadapi. “Coba mainkan lagi dari intro sampai habis ya.”, pimpinnya. Dia mengambil bass. Kali ini bass fretless yang cukup jarang keluar dari sarangnya. Kemudian kami berdua mulai melakukan workshop dan aransemen. Malam itu, kami langsung rekaman dan Rhesa menyelesaikan lagunya di studio hingga matahari terbit. Saya tak kuat menemani akhirnya tidur di kamar yang terletak di seberang ruangan studio kami. Sore hari di hari berikutnya, lagu berjudul “Ruang Bahagia” telah lahir secara utuh, dan dalam keadaan yang baik sekali.

image-24-08-16-11-29-7Proses pembuatan video musik Athirah yang disutradarai Aditya Ahmad juga sungguh membahagiakan. Saya kagum sekali karena Adit bisa-bisanya menerjemahkan lagunya dengan indah, memasukkan footage film dengan apik dan sesuai dengan visualisasi yang ada di kepala saya saat saya menulis lagunya. Padahal tidak ada obrolan mengenai itu sebelumnya. Dia juga tetap memberikan ruang bagi saya dan Rhesa untuk menjadi diri kami sendiri, namun menghubungkannya dengan film dan emosi Athirah. Sebuah karya yang luar biasa!

Sebuah lagu lahir dengan alasan dan tujuan. Kemudian dia akan menemukan takdirnya sendiri. Lagu “Ruang Bahagia” lahir karena film Athirah. Diasuh dan dibesarkan dengan baik, sesuai sekali dengan filmnya, moodnya, bahkan maknanya. Seperti orang tua yang belajar banyak hal dalam mengasuh dan membesarkan seorang anak, saya juga belajar hal penting dari lagu saya sendiri. Segera saya telpon orang tua saya, menghubungi kakak-kakak saya. Berjanji untuk bisa lebih meluangkan waktu saya untuk mereka. Karena, di dalam keluarga lah kita akan belajar dan menemukan keikhlasan dalam mencintai dan mengasihi.

Flyer Promo Ruang Bahagia - OST Athirah

Lagu “Ruang Bahagia” bisa diunduh gratis selama 60 hari ke depan terhitung tanggal 24 Agustus 2016 di website Endah N Rhesa.

Selamat menikmati..

Ruang Bahagia

Aku menghiraukan kau pergi
Tersenyum saat kau kembali
Nikmati kehangatan di setiap suap yang terhidang

Harapan meneguhkan hati
Perlahan menyulam memori
Dan bila engkau mencari
Aku di sini

Menyeduh kisah, sajikan cinta
Menata ruang bahagia
Menuang rindu, padukan rasa
Karena kita keluarga

Jika Tuhan yang menghendaki
Jangan menolak atas semua hal yang telah terjadi
Yang telah terjadi

Love,
Endah Widiastuti

IMG_6377
The most promising young film maker, Aditya Ahmad
IMG_6378
The duos!
image-24-08-16-11-29-6
Tim Athirah Music Video

 

Photo credit : Ochaapanda, Mira Lesmana, Riri Riza, Bunda (Miles Production).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*