Selasa (28/01) sore hari pukul 15.00 WIB, Endah N Rhesa tampil di acara “Pisah Sambut Direktur ICEL (Indonesian Centre of Environmental Law)” Di Gedung Arsip Nasional, Jakarta Pusat.Setelah 9 tahun menjabat, Mas Henri Subagiyo mempersilahkan Mas Dodo (Raynaldo G. Sembiring) untuk melanjutkan program-program ICEL di tahun-tahun mendatang. Saya hadir saat Mas Henri memberikan kata sambutan dengan terharu setelah sebelumnya menyaksikan video persembahan dari para anak buahnya. Saya duduk di bangku belakang dan ikut pula meneteskan air mata. Menyenangkan sekali ketika bekerja di kantor yang hangat, seluruh tim memiliki visi misi yang sama, bersemangat memperjuangkan sesuatu, pantang menyerah, dan memiliki frekuensi pemikiran yang sama. Itulah mengapa kakak saya, Dyah Paramita, sayang sekali dengan teman-teman di ICEL.

Ini adalah tulisan pertama saya di blog Endah N Rhesa di tahun 2020. Meskipun, yah aku nggak tahu, apakah orang-orang masih membaca blog atau tidak. Mungkin memang masih lebih menarik melihat-lihat etalase berbagai kejadian lewat Instagram, atau cuitan-cuitan pendek bisa juga ber-thread-thread di twitter. Kemudian bisa juga bikin akun sekedar menikmati joke-joke retcjeh di TikTok yang amat sangat menghibur hati melupakan berita-berita yang (kadang judulnya) bikin gemas di situs-situs berita dot com.

Sejak Senin, saya harus voice rest karena batuk dan radang tenggorokan. Kalau nggak mendesak, saya nggak keluar rumah. Kemudian, di tengah kebosanan, saya cek instagram. Eh, kepencet siaran live-nya @komikrukii (iya aku kepencet.. ga sengaja nonton! LOL!) . Mau keluar tapi ternyata @komikrukii lagi gambar sambil dengar lagu Iwan Fals. Ia menggambar orang yang di satu sisi teriak “Anti Korupsi” namun di sisi lain mengenakan rompi oranye. Ha! Di sinilah letak kritis para seniman, memotret kenyataan yang ada melalui karya. 🙂 Kemudian saya menyapa dan disambut dengan ramah.

Sudah sejak lama saya mengetahui bahwa Rhesa senang sekali dengan bass Fodera, sebuah bass butik buatan Amerika yang ternama. Sejak tahun 2003, saya mengenal Rhesa demikian pula mengenal Fodera. Ia selalu antusias menunjukkan foto atau video Victor Wooten dengan bass Yin Yang-nya yang menawan. Sebagai musisi, tentu saja saya mencoba obyektif menggali karakter suaranya. Ya, memang enak. Namun awalnya saya berpikir, mungkin, karena Rhesa suka dengan Victor Wooten lalu apa yang dipakai jadi bagus. Hahaha! Ya, saat itu belum telingaku belum benar-benar peka. Rhesa pakai bass apa saja saat itu buat saya ya enak-enak saja. Hingga akhirnya musik Endah N Rhesa berkmbang, seiring dengan pengetahuan serta pendengaran. Ya, instrumen Endah N Rhesa di panggung hanya 3, yaitu gitar, vokal, dan[…]