Pernahkah kau merasakan benci dengan sesorang? Sakit hati? Iri? Ya, setiap orang pasti pernah memiliki rasa seperti itu.. termasuk saya. (Dulu..) saya termasuk orang yang ambisius dan tidak pernah terima kekalahan. Setiap kali menerima kekalahan selalu merasa bersalah dan hancur berkeping-keping. Kekalahan dalam kompentisi atau kekalahan dalam hal lain… seperti… iri pada kesuksesan seseorang. Ya, dulu… saya termasuk orang yang demikian. Setelah akhirnya saya bertemu Rhesa… (ah.. dia lagi..), seseorang yang sabar dan fokus dengan apa yang dia kerjakan.. fokus dengan apa yang dia hasilkan.. Berikut ini adalah percakapan saya dengan Rhesa sekitar setahun yang lalu.. Saya ingat, waktu itu bulan puasa. *scene di mobil menembus kemacetan Jakarta

Pada suatu malam di mobil, saya dan Rhesa sedang pulang menuju rumah setelah seharian berpergian dan membicarakan banyak hal. Ada satu hal yang menarik yang membuat saya (seperti biasa) menjadi lebih mengenal suami saya yang… hmm.. unik dan eksentrik ini. Hahaha! Saya selalu berusaha mengimbangi apa pun itu buah pemikirannya yang kadang aneh, nyentrik, nyeleneh, sepertinya mengada-ada tapi yaaaa ada benernya juga yaa.. Itulah yang membuat saya tidak pernah bosan ngobrol bersamanya berjam-jam setiap hari.. 🙂

Minggu lalu kawan lama saya yang kini bekerja di Reader’s Digest Indonesia, Bayu Maitra, menanyakan kesediaan saya untuk menjadi sukarelawan #MenebarInspirasi di Rumah Belajar Plumpang, Ancol. “Jadi gue pengen lo dan Rhesa ngajar, Ndah. Terserah materinya apa, tapi kalau bisa yang sesuai dengan profesi lo.”, bujuk rayu Bayu. Hehehe.. Awalnya, saya merasa tidak begitu percaya diri… Ah.. saya ngajar apa? Memang sih, setiap kelas hanya mengajar sekitar 30-45 menit. Tapi.. untuk seorang saya yang jarang terjun mengajar tentu saja bukan hal mudah untuk memikirkan materinya (padahal dulu kuliah jurusan Music Education di UPH.. Hahaha!). Lalu hari yang mendebarkan itu tiba…