Suatu hari di mobil perjalanan pulang dari bandara menuju rumah… setelah bertukar pikiran (cenderung berargumen) mengenai esensi pernikahan.. menyambung topik pembicaraan kriteria suami dan istri.. akhirnya tibalah pada sebuah pembahasan yang cukup mendalam. Berikut obrolan saya dengan Rhesa yang, menurut saya, menyentuh hati… E : “Apa sebenernya kriteria terpenting dalam memilih pasangan pas mau nikah?” R: “Ya tiap orang beda-beda..” E : “Iya, tapi kira-kira apa? Kan ada yang maunya mukanya begini, fisiknya begitu, mesti S1, mesti PNS, dan sebagainyaa..?” R : “Kalau buat aku, selain seiman ya, yang penting itu ketika kita memilih keputusan untuk menikah…kita harus bisa mikir bareng-bareng. Gimana cara kita bisa survive, gimana cara kita bisa menjalankan keluarga ini.. ga hanya suaminya aja yang mikir, atau[…]
Tag: kontemplatif
Pernahkah kau merasakan benci dengan sesorang? Sakit hati? Iri? Ya, setiap orang pasti pernah memiliki rasa seperti itu.. termasuk saya. (Dulu..) saya termasuk orang yang ambisius dan tidak pernah terima kekalahan. Setiap kali menerima kekalahan selalu merasa bersalah dan hancur berkeping-keping. Kekalahan dalam kompentisi atau kekalahan dalam hal lain… seperti… iri pada kesuksesan seseorang. Ya, dulu… saya termasuk orang yang demikian. Setelah akhirnya saya bertemu Rhesa… (ah.. dia lagi..), seseorang yang sabar dan fokus dengan apa yang dia kerjakan.. fokus dengan apa yang dia hasilkan.. Berikut ini adalah percakapan saya dengan Rhesa sekitar setahun yang lalu.. Saya ingat, waktu itu bulan puasa. *scene di mobil menembus kemacetan Jakarta
Dulu setiap ditanya orang atau media.. “Apa suka-duka jadi musisi?”, saya selalu jawab “Wah.. apa ya? Suka–nya banyak.. dukanya sepertinya ga ada deh..”, ternyata saya salah…Ada satu duka yang baru saya sadari setelah sekian lama terjun menjadi musisi… (kesannya lama banget gitu padahal album aja baru dua :p ).
Semua kesentimentalan ini diawali saat kami membicarakan kematian… malam tadi.. Untuk Suamiku Tercinta… Tidak ada yang abadi di dunia, kecuali Allah dan cinta yang kita miliki… baik saat kita hidup maupun tiada.. sebuah impian tertinggi kita berdua adalah selalu bersama di dunia dan akhirat Apa yang sudah kita lakukan selama ini tidak hanya semata-mata dengan tujuan bahagia.. tapi juga ibadah tidak sedikit pun ada penyesalan di hatiku memiliki suami seperti dirimu ketika aku memperkenalkan dirimu di atas panggung dengan kata-kata.. “laki-laki yang paling ganteng di sini”.. adalah kenyataan yang aku alami.. tak peduli mereka yang mentertawakan atau mencemooh atau meremehkan dirimu… kita.. hubungan ini.. pekerjaan ini.. semua karena kita menjalaninya dengan sepenuh hati kalau aku tiada.. dan kamu ada.. berdoalah[…]