My love Bonita Adi … Selamat ulang tahun, Bonita sahabatku, idolaku, panutanku. Sosok yang begitu tulus dalam berteman, berhati emas, sederhana bersahaja, ibu dan istri yang luar biasa. Teringat saat lagi main-main ke Potlot 15 tahun silam tiba-tiba terdengar suara menggelegar (yang mana tempat kuberdiri cukup jauh dari sumber bunyi), ternyata itu suara dirimu sedang latihan di studio depan area kantor Slank.. ah! Lagu “Merah”! Aku ingat judulnya.. so beautiful and powerful. Aku beringsut pulang dengan… sedikit tercekam. ? Kemudian berkesempatan berkenalan di @wapressbulungan tak seberapa lama setelahnya.. sosok bersahaja ini menyapaku (duluan!!!!) dengan ramahnya.. aku masih kinyis-kinyis.. tak tahu harus bersikap bagaimana saat berjumpa dengan seorang diva! Selang beberapa tahun kemudian, kembali kumendengar suaranya dari parkiran KeKun, sebuah cafe[…]

“Hi, besok di Ngayogjazz main jam, 16.45 ya. Usahakan nonton prosesi pembukaan. Biasanya humor banget.”. Demikian pesan singkat yang saya terima dari Pak Singo, seorang penulis dan kolektor musik asal Yogyakarta. Bujukan yang membuat saya segera koordinasi dengan tim untuk bisa sampai ke lokasi acara lebih cepat karena sebelum Ngayogjazz saya harus tampil terlebih dahulu di Plaza Ambarukmo untuk sebuah acara “Temu Sahabat Tunas Cilik” oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik partner dari Save The Children. “Jarak 14 kilometer, Mbak. Kalau usai tampil jam 15.00 WIB kita langsung ke sana diusahakan sampai tepat waktu.”, ujar Tysa, Road Manager Endah N Rhesa. Baiklah, saya rasa semua sudah diatur sebaik mungkin. Dan benar saja..

Akhirnya rilis juga lagu dari soundtrack Endah N Rhesa Indie Ride youtube video seri di gerai musik digital. Setelah mengarungi jalanan antar kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, pengalaman ini membuahkan lagu ‘Long-Lost Friend’ yang saya tulis saat bangun di pagi hari di kota terakhir. Saat menulis lagu ini, saya kembali membayangkan perjalanan saya bersepeda. Sekitar 300 KM sudah jarak terlampaui dan menemui berbagai macam hal di tengah perjalanan. Rasa haru saat saya sampai di puncak Bawen jalur Semarang-Salatiga. Tanjakan yang kejam, saya nyaris turun dari sepeda dan menuntunnya. Tapi sahabat saya, Nala, yang juga bersepeda bersama menemani di sisi saya sambil merekam momen juga menyemangati agar saya mengatur napas dan mengayuh pelan-pelan.

Hari itu, Minggu (22/10), Earhouse mewujudkan impian saya… mengumpulkan teman-teman musisi, seniman seni rupa, teman-teman kreatif, idealis, dan yang humoris di pelataran parkir mungil Pasar Kita, Pasar Modern Pamulang Kota. Saya sungguh terharu dengan kehadiran teman-teman yang saya idolakan dan jadikan panutan: Marjinal, Benny & Berry Likumahuwa, AriReda, serta Robi Navicula. Mereka, yang saya dan Rhesa pilih sendiri namanya, tampil karena memiliki karya musik juga sebuah pergerakan dan idealisme yang diterapkan dalam kesehariannya. Marjinal dengan musik, lirik, dan kontribusinya pada lingkungan tempat tinggal mereka yang menjadi ‘rumah’ bagi siapa saja untuk bisa mandiri dan berguna bagi sesama. Berani lantang dan berada dalam garis depan menyuarakan hati orang-orang yang ditindas akibat ketidakdilan. Mike, vokalis Marjinal sempat memberikan kesannya kepada Earhouse saat[…]