Waktu kecil, mungkin usia 5 tahun, saya bersama mama sholat Ied di sebuah lapangan besar. Saat itu saya cemas… “Mama.. mama. Aku khawatir.”, kataku. “Kenapa, sayang?”, jawab mama. “Nanti kalau pas kita sholat siapa yang jagain sepedanya?”, tanyaku. “Ada yang jaga di sana, sayang. Pak X (lupa namanya).”, jawab mama. “Emangnya Pak X ga sholat, Ma?”, tanyaku. “Engga, sayang. Pak X orang Kristen. Dia jaga kita, umat muslim, supaya khusyuk beribadah. Nanti saat natal kita juga gantian jaga mereka saat ibadah.”, jawab mama. “Ooo…”, saya tertegun, mencerna. Kemudian takbir panggilan berdiri. Sholat Ied pun dimulai. — My first lesson about tolerance came from my mother. — Selamat merayakan natal, teman-temanku. ‘Kan kujaga dan kuhormati hak-hak kalian beribadah. Karena esensi beragama[…]

Pagi itu, Jumat 15 Juli 2016, saya bangun lebih pagi dari biasanya. Yah, jam 7 pagi lah, hehehe. Terdengar ciutan burung-burung yang bertengger di pagar tembok kuburan seberang rumah. Sungguh sepi sekali pagi ini. Jauh lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena seminggu setelah lebaran. Hari ini kadar sensitifitas saya cukup tinggi. Penginderaan, perasaan, dan badan, semua sungguh sensitif. Ya, ini hari pertama saya menstruasi. Dan ini hari yang tepat untuk saya membaca naskah film Athirah yang dikirimkan Mba Mira Lesmana dan Mas Riri Riza sekitar 2 minggu lalu. Dari sejak dikirimkannya naskah via email, Rhesa selalu mengejar-ngejar saya untuk memulai menggarap OST Athirah. Saya selalu menjawab, “Tenang, deadlinenya masih tanggal 25 Agustus. Mendingan kita bereskan dulu yang lain.”, dalih saya.[…]

Hari Minggu malam (14/02) kami tampil di Mal Ciputra Cibubur untuk acara tahun baru Cina yang bertepatan juga dengan tanggal saat sebagian besar orang-orang merayakan hari kasih sayang. Ya, kalau buat saya sih setiap hari adalah hari kasih sayang. Uhuk! [Batuk-batuk! Minta gitar! Uhuk!]. Ada yang berbeda antara show ini dengan sebelumnya. Show kali ini cukup melepas rasa kangen saya dan Rhesa dengan dua musisi pasutri yang selalu menjadi motivasi kami untuk belajar. Otti Jamalus dan Yance Manusama. Ya, beliau-beliau datang menonton show Endah N Rhesa karena kebetulan rumah mereka tidak jauh dari tempat kami tampil. Setahun sebelum album Nowhere to Go (2009) rilis, saya sempat belajar vokal dengan Tante Otti dan Rhesa belajar bass dengan Om Yance di OJ Music House.[…]

Hari ini, 7 tahun yang lalu, CD rekaman (serius) perdana kami Nowhere to Go rilis di toko-toko Jawa-Bali. Saya sangat antusias. Setelah 5 tahun membangun Endah N Rhesa, bermain di berbagai acara dari wedding, gathering, reguler gigs di cafe dan resto, akhirnya kami menelurkan juga album dengan lagu-lagu ciptaan kami sendiri. Perjalanan 5 tahun yang penuh air-mata-tetes-darah-penghabisan bisa dibaca di artikel “There’s No Turning Back” yang saya tulis untuk bacaanmalam.com Kenapa rilisnya (awalnya) hanya di pulau Jawa dan Bali? Karena saat itu kami hanya mampu memberi modal produksi untuk cetak 1000 keping, yang mana angka tersebut merupakan angka minimal cetak yang hitungannya cukup murah untuk duplikasi CD. Kami menggunakan hampir sebagian besar uang kami untuk ‘melahirkan’ album ini. Tanpa ada[…]